Syarat Ketat, Petani Emoh Manfaatkan Resi Gudang

PURWOREJO, KRJOGJA.com – Petani di Kabupaten Purworejo enggan memanfaatkan sistem resi gudang (SRG) di Kecamatan Kutoarjo. Harga gabah di pasaran lebih tinggi dari harga pembelian pemerintah (HPP) dan ketatnya persyaratan SRG, membuat petani memilih menjual gabah kepada pedagang. Keengganan itu menyebabkan resi gudang kosong sejak dioperasikan pada 2015.
 
"Resi gudang tujuannya untuk jaga-jaga apabila harga jatuh, program tunda jual. Petani bisa menjaminkan gabah di SRG, mendapat resi kemudian ke bank yang ditunjuk pemerintah untuk menerima dana," kata Ketua KUD Maratani Sri Siswoko, kepada KRJOGJA.com, Selasa (12/09/2017).
  
Harga gabah beberapa tahun terakhir dinilai cukup bagus. Petani juga kesulitan memenuhi syarat kualitas gabah, antara lain kadar air maksimal 14 persen. Selain itu, pemerintah mengatur hanya 70 persen gabah yang dibayar, sedangkan 30 persen sebagai jaminan.

KUD Maratani yang ditunjuk pemerintah mengelola operasional SRG Kutoarjo, beberapa kali sosialisasi kepada kelompok tani dan gabungan kelompok tani di Purworejo. "Namun memang animo petani rendah. Sementara secara regulasi, SRG tidak bertugas melakukan pengadaan seperti Bulog, sehingga karena kondisi lapangan, belum ada yang memanfaatkan," terangnya. (Jas)

BERITA REKOMENDASI