Tabung Hasil Jual Roti, Sekeluarga Naik Haji

Editor: Ivan Aditya

PURWOREJO, KRJOGJA.com – Menunaikan ibadah haji menjadi cita-cita setiap umat Islam. Berbagai cara mengumpulkan rezeki dilakukan demi tuntasnya rukun Islam kelima itu. Ada yang demikian mudah mendapatkan rezeki, pun ada yang harus melewati proses penuh perjuangan.

Muhammad Istiqror (47) adalah satu dari banyak calon jamaah haji (calhaj) yang harus melewati proses penuh perjuangan itu. Namun impian berangkat ke tanah suci membuatnya semangat berjuang mengalahkan segala keterbatasan. Tuhan memudahkan jalannya.

Bahkan Istiqror mampu membawa Rofiah (41) istrinya dan Zakki Al Haydar (18) anaknya berhaji pada musim haji tahun 2017. "Alhamdulillah, Tuhan mengabulkan doa kami," ujar pria itu, ditemui KRJOGJA.com di rumahnya RT 01 RW 03 Desa Krandegan Kecamatan Bayan Purworejo, Jumat (28/07/2017).

Berhaji menjadi impian Istiqror sejak muda. Lelaki yatim sejak usia tiga tahun itu berjuang mewujudkannya. Berbagai pekerjaan dilakoninya, mulai berdagang solar, kerupuk hingga operator traktor sawah. Ketika beranjak dewasa, pria yang terlahir dengan tubuh kurang sempurna itu mencoba menekuni usaha sablon.

Istiqror kemudian menikah dengan Rofiah (41) tahun 1998 dan pasca pernikahan, badai krisis moneter mengguncang usahanya. Jatuh bangun keluarga kecil itu mempertahankan usaha yang terancam bangkrut. "Namun impian berhaji tetap kami pegang. Bahkan kala itu saya buat tulisan motivasi yang ditempel di lemari berisi kami sekeluarga bisa berhaji, setiap hari kami berdoa," terangnya.

Melihat prospek usaha sablon semakin muram, Istiqror dan istrinya memutar otak dan bersiasat. Bagi mereka, impian haji tidak boleh tenggelam hanya karena masalah ekonomi. Mereka pun mulai banting setir mencoba usaha makanan kecil. "Mulainya sekitar tahun 2004, istri beli dua kilo kacang, dibuat kacang bawang dan dijual keliling. Lalu pelan-pelan coba buat roti basah," katanya.

Mereka memasarkan produk secara manual dengan keliling ke tetangga, bahkan sampai ke Kota Purworejo. Sejak tahun 2004 pula, Istiqror mulai menyisihkan penghasilannya ditabung di celengan plastik.

Pelan-pelan usaha mereka berkembang. Pundi dalam celengan terus bertambah, lalu disimpan di bank. "Dana belum cukup, tetapi ternyata ada jalan berupa dana talangan haji dari sebuah bank pada 2011 dan saya ambil kesempatan itu untuk mendaftar bersama istri. Awalnya masih bingung bagaimana melunasi talangan puluhan juta rupiah itu, tetapi saya yakin kalau ada niat baik, akan dimudahkan," terangnya.

Benar saja, usaha roti semakin berkembang pesat. Dari hanya pesanan dua loyang, menjadi maksimal seribu dus perhari. Istiqror juga merambah usaha katering dan kambing akikah dengan jumlah karyawan 15 orang. Tahun 2013, ia kembali mendaftarkan ibunya, Sutinem (83) dan Zakki Al Haydar menjadi calhaj.

Namun Sutinem tidak bisa berangkat tahun 2017. Istiqror berusaha memajukan keberangkatan Sutinem dan Zakki, namun hanya Zakki yang berhasil. Alhasil, Zakki menjadi calon haji termuda Purworejo.

Ketiganya bakal berangkat ke Asrama Haji Donohudan Boyolali pada 14 Agustus 2017. Mereka sudah menunaikan seluruh persyaratan, tinggal menata hati dan menjaga kesehatan agar tuntas beribadah di tanah suci. "Apa yang kami yakini adalah, Tuhan selalu menolong umatnya. Haji kado istimewa dan kami bersyukur atas rezeki ini," tandasnya. (Jas)

BERITA REKOMENDASI