Tak Boleh Beli Pertalite, Pedagang BBM Eceran Demo

Editor: Ivan Aditya

TEMANGGUNG, KRJOGJA.com – Puluhan pedagang Bahan Bakar Minyak (BBM) eceran berdemostrasi di SPBU 4456214 di Kecamatan Ngadirejo Temanggung menuntut diperbolehkan kulakan pertalite, Selasa (08/06/2021). Mereka datang dengan mengendarai mobil bak terbuka dan puluhan sepeda motor dan menggelar sejumlah spanduk.

Seorang pedagang eceran dari Kecamatan Bejen, Atik mengatakan pedagang BBM eceran adalah pengusaha kecil yang berjualan di pelosok pedesaan dan membantu dalam penyediaan BBM pada rakyat kecil. “Kebijakan larangan eceran pertalite sangat berat sebab BBM itu yang dibutuhkan rakyat kecil, yang pendapatannya tergerus karena Pendemi Covid-19,” kata dia.

Dia mengatakan Pertamina mengeluarkan produk baru yakni Pertashop, yang sudah mulai ada di pelosok-pelosok desa. Harga Pertalite di Pertashop Rp 9.000 per liter, sementara pedagang eceran membeli di SPBU Rp 9.000 per liter dan menjual Rp 9.500 perliter. “Kami mohon melarang membeli pertalite dengan jerigen untuk dicabut,” kata dia.

Pedagang lainnya, Romadhon mengatakan kebijakan baru Pertamina menyusahkan masyarakat kecil, sebab selama ini daerah-daerah terpencil tidak terjangkau langsung oleh Pertamina. “Jika kami tidak diperbolehkan membeli pertalite untuk dijual kembali, warga juga akan kesusahan. Apalagi ekonomi warga sedang sulit. Pertamax mahal,” kata dia.

Dia mengatakan aksi yang digelar merupakan spontanitas, karena selama sepekan terakhir ini pedagang pertalite eceran di wilayah Kecamatan, Bejen, Candiroto, Ngadirejo, Tretep, Wonoboyo dan daerah lainnya sudah tidak bisa membeli pertalite dengan mengunakan jerigen di SPBU.

“Keinginan kami hanya sederhana, kebijakan tidak mempersulit rakyat kecil dan kami bisa kembali membeli Pertalite dengan jerigen untuk dijual kembali, itu saja,”tutupnya.

Sementara itu manajer SPBU 4456214 di Kecamatan Ngadirejo Andoyo saat menerima para pedagang mengatakan, pihaknya akan menampung seluruh aspirasi yang disampaikan oleh pedagang. “Saya berjanji akan langsung menyampaikan aspirasi pedagang ke Sales Manajer Pertamina Temanggung, Magelang dan Wonosobo, agar aspirasi pedagang ini diperhatikan,” kata dia.

Menurutnya, kebijakan dari pihak Pertamina area Yogyakarta ini hanya disampaikan secara lesan, mulai tanggal 5 juni pihak SR rayon Yogyakarta, tidak memperbolehkan pertalite masuk dalam jerigen padahal pertalite bukan merupakan bahan bakar minyak bersubsidi kenapa harus pertamak. “Aturan baru disampaikan secara lesan, kami merasa kebingungan saat menyampaikan kepada para pedagang, berbeda manakala ada aturan secara tertulisnya,” katanya.

Padahal katanya, meskipun hanya disampaikan secara lesan namun ada ancaman jika ketahuan menjual Pertalite ke jerigen itu ada sanksi, sanksinya cukup berat yakni tidak akan dikirim Pertalite selama tiga hari. “Padahal kami sebagai pengusaha jika dikenai sanksi seperti itu bisa tutup, harapan kami kedepan ada kebijakan yang pasti,” harapnya. (Osy)

BERITA REKOMENDASI