Tak Mampu Bersaing, Masih Banyak Perajin Luput Dari Pembinaan

KEBUMEN, KRJOGJA.com – Di tengah gencarnya upaya Pemkab Kebumen melakukan pembinaan terhadap para perajin gula kelapa agar mampu memproduksi gula berkualitas ekspor, ternyata masih banyak perajin gula Kebumen yang luput dari pembinaan.

Salah satunya di sentra gula Desa Tanggulangin Kecamatan Klirong Kebumen, yang hingga kini masih berkutat dengan proses produksi yang jauh dari kaidah-kaidah pembuatan gula kualitas ekspor.

"Selain masih menggunakan wadah nira dari kaleng cat, kami juga masih mencampuri nira dengan obat pengawet gula kimia buatan pabrik dan dapur kami masih berlantaikan tanah," ungkap perajin gula di perumahan eksodan Desa Tanggulangin, Saino, Minggu (18/02/2018),
di rumahnya.

Menurut Saino, akibat tak memiliki lahan untuk bercocok tanam puluhan perajin gula kelapa di desanya menjadikan pembuatan gula kelapa mereka sebagai usaha pokok, bukan usaha sambilan. Namun, sejauh ini belum ada peninjauan maupun pembinaan dari Pemkab Kebumen
terhadap mereka.

"Sehari penuh kami berjuang keras untuk membuat gula demi menopang hidup. Sejak pukul enam pagi hingga pukul sebelas kami memanjat puluhan pohon kelapa untuk menyadap nira. Setelah itu, hingga pukul tiga sore kami memasak nira dan mencetaknya menjadi gula,"
ujar Saino.

Selama 5 jam/hari Saino mampu memanjat 42 pohon kelapa dan diperoleh 42 liter nira yang bisa menjadi 13,5 kilogram gula. Dengan harga gula saat ini Rp 11,5 ribu/kilogram, maka keuntungan penjualan belumlah mencukupi untuk pengadaan alat-alat produksi yang higienis
maupun mengubah dapurnya menjadi dapur bersih berlantai keramik.

Terpisah, Tenaga Penyuluh Lapangan (TPL) Kementerian Perindustrian yang bertugas di wilayah Kabupaten Kebumen, Siti Uswatun Hasanah, menyebutkan bahwa sertifikat ekspor bisa diperoleh seorang perajin gula apabila mampu merombak total kebiasaan pembuatan gulanya menjadi higienis dan berstandar ekspor. Untuk itu, mereka harus didampingi oleh tenaga penyuluh.

"Belum semua tersentuh pembinaan, mengingat terbatasnya dana pembinaan," jelas Siti.(Dwi)

BERITA REKOMENDASI