Tak Punya Uang, Sepatu Rusak Cuma Dilem

SIDOMURAH (46), perempuan warga RT 02 RW 02 Desa Popongan Kecamatan Banyuurip Kabupaten Purworejo sibuk mengelem sepatu anaknya. Sol karet sepatu yang dibeli lebih dari setahun itu mengelupas.
  
Pemakai sepatu, Wakhid (15) yang tidak lain anak sulungnya, tidak memiliki gantinya. Pun tidak kuasa meminta ibunya membelikan yang baru karena secara ekonomi keluarga itu memang kekurangan.
  
Sidomurah mengatakan, perbaikan dilakukan sebisanya, namun tetap bagus. "Saya ini pengalaman, dulu pernah kerja di pabrik sepatu di Jakarta. Jadi biasa kalau memperbaiki sepatu rusak," ujarnya kepada KRJOGJA.com, Minggu (28/1).
  
Selain itu, penghasilan keluarga itu memang sangat terbatas.Sidomurah adalah janda setelah ditinggal suaminya meninggal dunia. Ia mengasuh dua anak, Wakhid pelajar kelas IX SMP dan adiknya Ayubi yang masih PAUD. Guna mencukupi kebutuhan, ia bekerja serabutan. Ia juga mengolah sawah seluas 50 ubin peninggalan almarhum suaminya. "Tapi hasilnya tidak seberapa, paling banyak Rp 1 juta setiap enam bulan sekali. Untuk harian, ya jadi buruh serabutan," tuturnya.
  
Untuk itu, Sidomurah memilih mengumpulkan uang hasil keringatnya guna membeli kebutuhan pokok. "Tidak cukup untuk beli sepatu, jadi dilem saja pakai lem karet, yang penting kuat dan awet dipakai anak ke sekolah," katanya.
  
Kesulitan hidup Sidomurah menggerakkan teman-temannya seangkatan di SMP 26 Purworejo untuk membantu. Beberapa alumni tergabung dalam Komunitas Sahabat datang ke Desa Popongan menyalurkan bantuan sembako dan sejumlah uang. 

"Kami melihat masih ada teman sekolah dulu yang sekarang terbatas secara ekonomi. Niatan kami hanya ingin menyisihkan sedikit rezeki untuk meringankan beban mereka," ujar pegiat komunitas, Taryadi.(Jas)

BERITA REKOMENDASI