Taman Sumber Daya Air Senilai Rp 2 Miliar Diuruk

Editor: Ivan Aditya

PURWOKERTO, KRJOGJA.com – Taman Edukasi Sumber Daya Air (SDA) di Jalan Jenderal Sudirman Purwokerto senilai Rp 2 miliar yang menggunakan APBD Banyumas baru selesai dibangun. Namun tempat itu kini malah diuruk untuk rencananya akan dijadikan jembatan layang penghubung Jalan Jenderal Sudirman – Jalan Gerilya.

Pengurukan Taman Edukasi SDA di tepi Sungai Kranji Purwokerto yang dijadikan tempat edukasi disayangkan oleh sejumlah tokoh masyarakat dan anggota Dewan Kabupaten Banyumas. "Saya selaku Ketua Forum Rembug Masyarakat pengelolaan sumber daya air serayu Hilir sangat menyayangkan pembongkaran Taman Edukasi SDA di sungai Kranji tersebut. Karena taman tersebut merupakan kebanggaan kami dan menjadi ikon dalam pengelolaan sumber daya air," kata Edy Wahono, Sabtu (03/08/2019).

Menurutnya selain itu pembangunannya menghabiskan dana APBD yang tidak sedikit. Taman Edukasi tersebut merupakan keterpaduan peran pengelolaan sumber daya air dalam antar pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten.

Ia juga menyayangkan perencanaan pembangunan jalan tembus Jalan Jenderal Sudirman menghubungkan Jalan Gerilya dinilai yang kurang matang dan tidak terintegrasi. Sehingga harus menimbun Taman Edukasi SDA yang sebelumnya sudah diprogram.

Anggota DPRD Banyumas dari Fraksi Partai Gerindra, Rachmat Imanda yang melihat aktivitas perataan taman, saat dihubungi mengungkapkan ketika pembahasan bersama di DPRD, pembangunan jembatan layang di atas taman tersebut tidak sampai merubah dan merusak taman. "Dalam pelaksanaannya sekarang berubah, hal itu patut dipertayakan. Karena untuk penganggaran untuk taman edukasi yang sia-sia," kata Imanda.

Ia, menjelaskan  untuk membangun taman edukasi sumber daya air saja ada dua kali anggaran sampai Rp 2 miliar, namun sekarang malah diratakan. "Uang rakyat disia-siakan seperti itu. Padahal dalam setiap pembahasan APBD, alasannya selalu ada kesulitan atau keterbatasan anggaran," ungkapnya.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Banyumas, Irawadi yang dihubungi terpisah mengatakan, tidak semua lahan taman edukasi  diratakan atau diuruk. "Yang diuruk taman yang ada bangunan paving dan tanaman. Sedangkan di bagian timur yang ada bangunan air mancur dipertahankan," ungkapnya.

Menurutnya, pembongkaran itu untuk memasang tiang pancang  jembatan (terusan jalan layang). Lokasi yang dibongkar untuk memasang pondasi, namun ada pula yang memang diuruk atau diratakan.

Dijelaskan pembongkaran dilakukan, karena memakai alat pengoboran dan alatnya harus berada di lokasi. Kemudian mau tidak mau taman yang sudah ada pasti akan rusak.

Ia mengunkapkan, taman itu sejak awal dibangun memang disiapkan kalau nanti ada pembongkaran untuk pembangunan jembatan dan jalan layang ini, tidak terlalu banyak yang dibongkar. Sedang materialnya nanti akan dikembalikan lagi dan malah nantinya ditingkatkan fungsi tamannya.

Ia berdalih, pengurukan taman edukasi itu dianggap tidak menyalahi aturan karena sudah dibahas di internal pemkab, dan disetujui TP4D dari unsur kejaksaan. Menurutnya, dari kajian bagian hukum, bagian aset dan TP4D, ada aturan paturan pemerintah yang membolehkan, suatu aset bisa dihapus saat ada kepentingan pembangunan yang lebih besar. (Dri)

BERITA REKOMENDASI