Tanah Bergerak di Tegalsari Bruno, Dua Rumah Ambruk

Editor: Ivan Aditya

PURWOREJO, KRJOGJA.com – Bencana tanah bergerak terjadi di RT 07 dan RT 08 Dusun Kacangan Krajan Desa Tegalsari Kecamatan Bruno Kabupaten Purworejo. Dua rumah ambruk rata dengan tanah, sedangkan tiga lainnya rusak berat. Bencana tersebut terjadi sejak Kamis (14/01/2021) dinihari sekitar pukul 02.00 WIB.

“Hujan lebat sejak sore hari dan baru reda pada pagi. Sekitar pukul 02.00, warga setempat terbangun mengetahui ada tanda pergerakan tanah, lalu dilaporkan ke desa,” ungkap Kaur Keuangan Tegalsari Ponco Daryanto, kepada KRJOGJA.com, Jumat (15/01/2021).

Perangkat desa mengecek lokasi dan langsung menginstruksikan pengosongan rumah di lokasi kejadian. Pengosongan dilakukan karena ditemukan retakan tanah sepanjang kurang lebih 200 meter di kawasan itu. Sebanyak 12 rumah dan satu musala berdiri di atas kawasan itu.

Pemerintah desa mengamati pergerakan tanah terjadi secara lambat, namun kontinyu. Tanah bergerak longsor secara pelan ke arah aliran Sungai Brengkok II di bawah permukiman. “Maka kami minta Kamis pagi seluruh penghuni untuk mengosongkan rumah. Ada 13 kepala keluarga terdiri atas 34 jiwa yang mengungsi ke rumah tetangga yang lebih aman,” ungkapnya.

Benar saja, pergerakan tanah terus terjadi dan pada Kamis siang sejumlah rumah mengalami kerusakan. Kerusakan semakin parah pada Jumat pagi, hingga dua unit bangunan roboh, sedangkan tiga lainnya rusak berat.

Rumah ambruk terdata milik Zaenal Abidin dan Mad Yunus, sedangkan rusak berat punya Ali Sukron, Nur Tawadin, dan Wasilah Komedi. Sementara rumah rusak ringan dan terdata milik Isman, Maksud, Mahmudin, Sariyah, Wasilah, Zaenudin, Saefudin, dan satu musala.

Pemerintah desa menutup kawasan itu dengan memasang garis polisi. Mereka juga menggunakan pengeras suara untuk mengingatkan warga yang hendak mendekat lokasi tanah gerak.

Meski demikian, hingga Jumat sore warga terdampak belum menerima bantuan pemerintah. “Sementara ini bantuan baru dari para dermawan, pemerintah baru rencanakan besok Sabtu dan Senin untuk ditindaklanjuti bantuannya,” katanya.

Menurutnya, warga tidak mungkin kembali mendiami rumah mereka karena tingginya risiko bencana. “Ke depan kami berharap ada solusi relokasi dari pemerintah, mengingat warga tidak mungkin kembali ke rumah lama mereka,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Purworejo Drs Sutrisno MSi mengatakan, bencana di Tegalsari masuk kategori longsor rayapan. Pergerakan tanah secara pelan atau merayap itu didukung faktor lokasi kejadian yang landai. “Permukiman itu tidak terletak di kawasan tebing curam, kemiringannya landai, tapi di bagian bawah atau lembah ada sungai. Arah luncuran tanah menuju sungai itu,” terangnya.

Dikatakan, kawasan itu sudah tidak layak huni. Pergerakan tanah masih terus terjadi meski hujan tidak sedang mengguyur kawasan itu. “Satu-satunya solusi adalah relokasi, tapi tentu harus ada pembahasan lebih lanjut,” tandasnya. (Jas)

BERITA REKOMENDASI