Tanaman Cabai di Temanggung Terserang Pathek

Editor: Ivan Aditya

TEMANGGUNG, KRJOGJA.com – Musim hujan ekstrim menyebabkan tanaman cabai terserang pathek. Petani pun harus bekeja ekstra untuk menanganinya agar tanaman cabai tetap berproduksi dan tidak menimbulkan kerugian.

Seorang petani warga desa Sroyo Kelurahan Madureso Kecamatan Temanggung, Slamet (45) mengatakan hujan deras dan kelembaban yang tinggi menyebabkan tanaman cabai mudah terkena organisme pengganggu tanaman (OPT), seperti antraknosa, kutu kebul, ulat buah, jangkrik dan gangsir, lalat buah, ulat grayak, penyakit layu bakteri dan patek.”Serangan OPT menyebabkan produktivitas tanaman berkurang bahkan ada yang mati, ” kata dia, ditemui di lahan pertaniannya, Senin (17/02/2020).

Dikatakan produktivitas berkurang ini menjadikan harga cabai sedikit naik, tetapi kenaikkan itu hanya beberapa ratus atau ribu per kilogramnya, dengan harapan bisa menutup biaya pengolahan. Dia menyampaikan pada musim ini menanam 1000 batang tanaman cabai rawit merah atau cabai sret.

Dari jumlah itu, lebih dari separuh telah terserang berbagai OPT, namun yang terbesar terserang patek. Penyakit yang menyerang itu mulai beberapa batang pohon hingga kemudian menyebar. Serangan itu mulai Desember lalu. “Serangan patek semula hanya muncul bintik-bintik coklat pada buah cabai, lama-lama makin kering, membusuk,” kata dia.

Dia mengemukakan cabai yang sudah terserang patek, jika masih sedikit dijual dengan harga lebih rendah dari kualitas baik. Tetapi yang telah parah tidak bisa dimanfaatkan lagi. cabai yang terkena patek jika untuk memasak, rasanya pasti tidak enak.

Petani lainnya, Muhammad mengatakan telah mencoba berbagai jenis obat untuk mengatasi serangan patek. Antara lain obat pertanian hasil pabrikan tetapi sejauh ini tidak banyak membuahkan hasil positif. “Serangan justru semakin menyebar pada tanaman cabai lainnya,” katanya.

Dia mengatakan langkah yang paling ekstrim karena tidak bisa sembuh, tanaman cabai dicabut lalu dibuang. Harapannya tidak menular ke tanaman lain yang ada disekitar.

Dikatakan tanaman cabai sudah menghasilkan pada usia 3,5 bulan. Dalam kondisi normal, panen dilakukan dalam 30 kali petikan dengan pemetikkan tiap tiga hari sekali. Dari sekitar 800 pohon yang ditanam rata-rata menghasilkan 60 kilogram.

Dia mengemukakan hasil panen yang masih bisa diselamatkan dari patek terjual pada pengepul dengan harga Rp 60 ribu per kilogram. Namun di pasar, harga cabai sudah mencapai Rp 85 ribu per kg. Dalam kondisi normal cabai dipasarkan dengan kisaran harga Rp 20-24 ribu per kg.

Sedangkan petani lainnya Ratno (50) mengatakan dari 1.500 tanaman cabai sebagian besar terserang pathek. Kendati panen, dirinya tetap menyemprot tanamannya dengan obat anti hama, dengan harapan tidak menyebar atau lebih parah, sebab harga cabai sedang bagus. “Cabai yang masih sehat masih laku terjual dan harganya tinggi, yang tidak bagus disesuaikan dengan tingkat keparahannya,” katanya. (Osy)

BERITA TERKAIT