Tim Ekspedisi Destana BNPB Jawab Kekhawatiran Warga Soal Tsunami Selatan Jawa

Editor: KRjogja/Gus

PURWOREJO, KRJOGJA.com – Ekspedisi Desa Tangguh Bencana (Destana) Tsunami Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sampai di Purworejo, Senin (29/7). Mereka sosialisasi potensi bencana di 15 desa pesisir. Tim ekspedisi mendapat pertanyaan terkait isu tsunami 20 meter di laut selatan Jawa.

 

Sejumlah peserta sosialisasi menanyakan berbagai hal terkait hasil kajian ahli Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) terkait potensi tsunami yang diperkirakan mencapai 20 meter apabila gempa bumi berkekuatan hingga 8,8 Skala Richter, terjadi di laut selatan Jawa. "Bukan isu, itu adalah potensi dan informasi tersebut harus jadi motivasi memperkuat mitigasi. Betul fakta pesisir selatan itu rawan karena terdapat lempeng aktif di dasar Samudera Hindia," tutur anggota tim pelaksana Ekspedisi Destana Tsunami Jawa Tengah, Sulistyawan, kepada KRJOGJA.com, usai mengisi sosialisasi di Kantor Desa Jogoboyo Purwodadi.

Menurutnya, sebagian masyarakat pesisir khawatir bakal terjadi tsunami seperti ramai tersebar di media sosial. Namun tidak ada keresahan pada warga pesisir dan mereka tetap menjalankan aktivitas seperti biasa. Keresahan, lanjutnya, justru banyak muncul dari penduduk yang bukan warga asli kawasan pesisir.

Potensi tersebut, lanjutnya, bukan untuk ditakuti melainkan harus diantisipasi. Antisipasi dilakukan untuk menekan jatuhnya korban ketika terjadi bencana tsunami.
Apalagi, kata Sulistyawan, tidak ada yang bisa memprediksi kapan gempa bumi besar pemicu tsunami melanda lepas pantai selata "Belum ada teknologi yang bisa mendeteksi kapan terjadi gempa. Kalau gelombang tsunami baru bisa dideteksi setelah terjadi gempa," ucapnya.

Kasi Pencegahan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Purworejo Subiyanto mewakili Kepala BPBD Purworejo Drs Sutrisno menambahkan, masyarakat harus paham dengan tanda tsunami, antara lain didahului gempa besar, air laut surut, angin kencang tidak seperti biasanya berembus dari laut, dan kadang disertai dentuman. "Apabila ada tanda dan diikuti bunyinya alat Early Warning System (EWS), maka warga harus lari ke lokasi yang lebih tinggi," paparnya. (Jas)

BERITA REKOMENDASI