Trans Borobudur Siap Ajak Penumpang Keliling Desa

Editor: Ivan Aditya

MAGELANG, KRJOGJA.com – Sejak dioperasikannya bus Trans Jateng tujuan Borobudur – Kutoarjo awal September 2020 kemarin oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, antusias penumbang yang ke Borobudur maupun ke Kutoarjo luar biasa. Bahkan kalau tidak dibatasi, hampir setiap hari 14 armada yang disiapkan, selalu dijejali penumpang.

Namun disayangkan, penumpang Trans Jateng dari Kutoarjo atau Purworejo setelah sampai di Terminal Borobudur sering kebingungan. Pada umumnya, mereka tidak mengetahui harus kemana setelah itu. Pasalnya di Terminal Borobudur tidak ada informasi yang memadai untuk menjawab kebingungan mereka.

Bahkan banyak diantara mereka yang kemudian memilih hanya duduk di terminal borobudur dan kemudian pulang lagi ke Kutoarjo atau Purworejo. Untuk menjawab kebingungan, ketidakpastian dan agar penumpang merasa lebih nyaman, sejumlah pelaku transportasi bekerjasama dengan pelaku pariwisata, meluncurkan Trans Borobudur.

Untuk sementara ada 12 armada plat hitam yang disiapkan. Sebanyak 12 armada itu akan melayani dua rute. Pertama, Terminal Borobudur, Candi Borobudur, Svarga Bumi, Balkondes Borobudur, Punthuk Setumbu, Gereja Ayam dan kembali ke Terminal Borobudur.

Untuk rute yang kedua, dari Terminal Borobudur, Candi Borobudur, Rumah Kamera, Balkondes Majaksingi, Balkondes Ngargogondo, Desa Bahasa/Wisata Kelinci, Ladon Island, Balkondes Candirejo, Jung Yard, Candi Pawon dan kembali ke Terminal Borobudur. “Untuk tarifnya, per orang sementara Rp 6.000 dan untuk saat ini, ada 12 armada yang kami siapkan,” kata Nurudin, Sekretaris Trans Borobudur.

Disampaikan jika keberadaan Trans Borobudur ini, untuk menjawab kebingungan, ketidakpastian dan ketidakjelasan para penumpang setelah sampai di Terminal Borobudur. “Keberadaan kami adalah untuk menjawab keluhan mereka. Jadi mereka ke sini (borobudur), bisa kami antar berwisata kesejumlah tempat sesuai rute yang kami sediakan itu. Ini juga untuk mendukung keberadaan trans jateng, sehingga penumpang akan merasa puas karena terlayani secara maksimal,” jelasnya.

Hal senada disampaikan Hani Sutrisno, Owner Desa Bahasa yang juga Taman Kelinci. “Kami mengapresiasi peluncuran trans jateng. Semangat dan tujuannya sangat bagus. Semua untuk mendukung dunia pariwisata disini (Magelang). Namun kalau tidak didukung moda-moda transportasi yang lain, tentu akan percuma. Penumpang jangan dibiarkan bingung mau kemana setelah sampai terminal borobudur. Yang terjadi selama ini, penumpang bingung dan tidak ada kejelasan tujuan mereka setelah sampai disini (terminal borobodur),” ungkapnya.

Keberadaan Trans Borobudur, kata Hani, jelas akan mendukung penyebaran wisatawan ke sejumlah destinasi disekitar Borobudur. “Terus terang, trans borobudur akan sangat membantu kami. Kami jadi terbantu dan tentu akan meningkatkan kunjungan wisatawan ditempat kami,” tegasnya.

Sementara Yulianto Budi Santoso, Bendahara Pembantu Kantor Layanan BRT Trans Jateng Borobudur-Purworejo mengungkapkan, jika animo warga untuk menggunakan armada Trans Jateng tujuan Borobudur – Kutoarjo sejak dibuka hingga saat ini, luar biasa. Bahkan sampai ada beberapa penumpang dari Kutoarjo, tidak bisa kembali ke Kutoarjo, karena tiket Trans Jateng habis.

“Beberapa waktu lalu itu, ada beberapa penumpang yang tidak bisa pulang naik trans jateng, karena tiket habis. Terpaksa mereka kami arahkan naik armada umum yang lain. Terkait hal itu, saat ini kami sarankan untuk langsung membeli tiket pulangnya,” katanya.

Terkait keberadaan Trans Borobudur, pihaknya tidak bisa berkomentar. “Tadi memang ada beberapa perwakilan warga yang datang untuk berdiskusi tentang trans borobudur itu. Namun itu bukan kewenangan kami. Mereka kami sarankan untuk ke dinas perhubungan kabupaten magelang. Memang ada beberapa penumpang yang tidak tahu mau kemana setelah sampai disini (terminal borobudur). Namun selama ini, tujuan mereka memang hanya ingin mencoba merasakan bus trans jateng,” ungkapnya.

Disampaikan, untuk armada Trans Jateng tunuan Borobudur – Kutoarjo saat ini, ada 14 bus. Mereka melayani sejak pukul 05.00 hingga 18.00 WIB. “Kalau dirata-rata, antar bus ada jeda istirahat sekitar 20 menit. Dan sejauh ini, antusias warga untuk mencoba sangat tinggi. Namun kami hanya batasi 15 dari 30 orang tiap sekali berangkat. Ini karena kami menyesuaikan dengan protokol kesehatan. Sebelum masuk bus, penumpang juga kami cek suhu tubuhnya. Dan yang jelas, mereka harus memakai masker,” pungkasnya. (Bag)

BERITA REKOMENDASI