Unik, Gelar Pentas Sendratari Bogowonto diatas Jembatan

Editor: KRjogja/Gus

PURWOREJO (KRJOGJA.com) – Ratusan pasang mata warga Kabupaten Purworejo wilayah selatan tertuju pada puluhan penari yang beraksi di atas Jembatan Ngandul, Sungai Bogowonto, Desa/Kecamatan Bagelen, Minggu (3/9). Tidak hanya itu, pengguna jalan utama selatan Jawa yang menghubungkan Jawa Tengah dengan Yogyakarta pun memelankan kendaraannya. Mereka terpana dengan pementasan di atas jembatan peninggalan kolonial Belanda itu.

Tiga grup penari tampil memukau mulai pukul 15.00 – 17.30. Mereka adalah perkumpulan kesenian Dolalak Kreasi Baru Politeknik Sawunggalih (Polsa) Kutoarjo, Kuda Kepang Kudo Bekso dan sanggar tari Aswahita. "Tiga grup membawakan enam tarian, beberapa diantaranya merupakan kolaborasi," kata Ketua Sanggar Tari Aswahita Tut Wuri Trisilowati, kepada KRJOGJA.com, usai pementasan.

Kegiatan tersebut memang rangkaian Festival Bogowonto yang digelar secara bersama oleh berbagai komunitas seni, lingkungan, pegiat medsos dan didukung pemkab setempat. Panitia menyebut pementasan itu sebagai Sendratari Bogowonto.

Karena itu, kata Sapto, ada beberapa tarian kolaborasi antara dolalak dengan kuda kepang. Tetapi agar tetap menghibur, grup kuda kepang membawakan tarian dengan aksi trance

atau kesurupan.

Ketua Festival Bogowonto 2017, Sapto Pamungkas menuturkan, sendratari diawali dengan adat guyang jaran atau memandikan kuda kepang alat para penari di sungai bawah jembatan. Setelah selesai, perhatian penonton kembali ke atas jembatan untuk menyaksikan pentas dolalak kreasi, disusul kolaborasi, kuda kepang dan pentas tari sanggar Aswahita. "Mereka ini adalah seniman-seniwati yang tinggal di desa-desa sepanjang Sungai Bogowonto," tuturnya.

Sementara itu, Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Jawa Tengah yang juga pegiat lingkungan asal Krendetan Bagelen, Juli Eko Nugroho mengemukakan, festival juga bertujuan untuk merawat Sungai Bogowonto. Sungai memiliki arti penting bagi masyarakat, namun kondisinya justru memprihatinkan dengan adanya kerusakan. Kebiasaan buruk sebagian masyarakat membuang sampah di sungai, jadi penyebabnya.

Berkesenian di atas atau tepi sungai, katanya, dapat menggerakkan masyarakat untuk peduli dengan lingkungan. "Kita tarik mereka mendekat ke sungai dengan pentas seni, lalu pelan-pelan disosialisasi pentingnya menjaga lingkungan. Cara itu juga bentuk pengurangan risiko bencana," tegasnya. (Jas)

BERITA REKOMENDASI