Unik, ‘Ngrajang’ Tembakau Manual Bisa Jadi Ajang Atraksi Wisata

TEMANGGUNG, KRJOGJA.com – Petani tembakau lereng Gunung Sindoro di Kecamatan Bansari Temanggung menggelar Festival Lembutan sebagai even wisata kebudayaan sekaligus mewariskan tradisi dan nilai-nilai luhur kearifan lokal setempat pada generasi muda, Rabu (10/10/2018).

Acara dibuka Gubernur Jateng Ganjar Pranowo didampingi Bupati Temanggung Al Khadziq, sesepuh desa dan tokoh pertembakauan di daerah tersebut. 

Ganjar mengatakan inovasi diperlukan untuk mengembangkan desa sehingga pendapatan warga dan kesejahteraannya meningkat. Inovasi tersebut dengan memanfaatkan sumber daya yang sudah ada, yang selama ini cenderung ditinggalkan karena dianggap kuno. 

Festival Lembutan sebagai salah satu inovasi masyarakat pertembakauan di Lereng Gunung Sindoro dengan menjadikan sebagai atraksi budaya untuk menarik wisatawan. Festival ini sederhana, yakni membuat lomba merajang tembakau dengan peralatan tradisional atau manual dan lomba menata tembakau rajangan di atas rijen untuk dijemur. 

Ia mengatakan melalui festival ini, potensi yang dimiliki desa ini nantinya bisa lebih maju lagi, karena daya dukung alamnya bagus untuk menarik orang datang ke sini berwisata.

"Tinggal buat event yang kreatif, ngajak orang ke sini, dan perbaiki penyelenggaraannya tiap tahun dan jadikan kegiatan ini sebagai kalender event tahunan maka bisa menarik," katanya.

Dia menyampaikan aset tradisi budaya masyarakat sudah seharusnya digali lagi dan dipertontonkan pada masyarakat luar. Sehingga tidak musnah, tetap lestari dan disatu sisi menjadi aset wisata tradisi budaya. 

Kades Candisari Kecamatan Bansari Ceper Parwidi mengatakan merajang tembakau dengan peralatan tradisional yakni gobang kini semakin ditinggalkan oleh warga karena telah ada perajang modern atau mesin. " Even ini sekaligus mewariskan kearifan lokal pada generasi penerus, agar mereka mengetahui tradisi nenek moyang," katanya.  

Dia mengatakan peserta lomba adalah generasi muda. Kaum lelaki untuk lomba merajang tembakau sedangkan untuk kaum perempuan mengikuti lomba menjanjang atau menata tembakau diatas rijen untuk di jemur. Penilaian pada kecepatan dalam merajang berikut kehalusan dan kerapian hasil rajangan, demikian pula dalam menata tembakau di atas rijen. " Peserta dari 13 desa di Kecamatan Bansari," katanya. 

Seorang warga Ismoyo mengatakan petani merajang lembutan dengan peralatan tradisional biasanya untuk dikonsumsi sendiri atau dijual  untuk segmen tertentu. Tembakau yang dirajang adalah yang terbaik, dengan proses pembuatan tembakau rajangan lebih teliti sehingga hasilnya sangat baik, serta harganya pun mahal. 

" Kami tidak menjualnya ke pabrik tapi segmen khusus pecinta tembakau lintingan. Tembakau rajangan mesin yang dijual ke pabrik," katanya.

Dia mengatakan merajang lembutan ini punya nilai-nilai filosofi tinggi, seperti kesabaran, kehati-hatian dalam memproses dan memasrahkan hasil pada Tuhan semesta alam. Selain itu mencintai profesi sebagai petani tembakau. "Diharapkan generasi muda mengenal tradisi dan melestarikan tradisi tersebut," katanya. 

Mengenai harga dia mengatakan harga tembakau lembutan mulai dari Rp 50 ribu hingga Rp 2 juta per kilogram. Harga itu disesuaikan dengan kualitas tembakau dan kelembutannya. (Osy)

BERITA REKOMENDASI