Usaha Pengolahan Memilih Garam Impor

KEBUMEN, KRJOGJA.com – Terhentinya produksi garam mentah oleh petani garam dalam negeri akibat berlangsungnya musim penghujan sejak awal Oktober 2017 lalu, menyebabkan usaha pengolahan garam kini harus menggantungkan bahan bakunya pada garam mentah impor.

"Disamping stoknya sangat terbatas, kualitas garam mentah lokalpun tak sebagus garam mentah impor. Apalagi, garam mentah impor juga lebih mudah diolah menjadi garam konsumsi maupun garam industri, sehingga kami kini lebih cenderung memilih menggunakan garam mentah impor," ujar pemilik usaha pengolahan garam di Desa Semanding Kecamatan Gombong Kebumen, Suliyem, di pabriknya, Senin (11/12/2017).

Kecenderungan memilih garam mentah impor sebagai bahan baku usaha pengolahan  garam menurut Suliyem membawa konsekuensi tersendiri, mengingat harganya yang lebih mahal dibandingkan garam lokal. Modal usaha yang dibutuhkan pun menjadi lebih besar dibanding bila menggunakan garam mentah lokal.

"Harga garam mentah lokal saat ini mencapai Rp 3.000/kilogram di tingkat  pengepul. Sedangkan garam mentah impor lebih mahal yaitu Rp 3.500/kilogram," ungkap Suliyem.

Dibandingkan harga normal sebelum terjadi krisis garam beberapa bulan lalu, kondisi harga garam mentah saat ini menurut Suliyem masih terhitung mahal. Karena itu, harga garam olahanpun hingga Desember 2017 masih mahal yaitu mencapai Rp 11.500/kilogram. Sedangkan harga normal sebelum krisis garam hanya Rp 6 ribu/kilogram.

"Krisis garam tersebut muncul sekitar awal bulan Juni 2017 lalu. Sebelum krisis, harga garam mentah lokal maupun impor masih murah, hanya berkisar Rp 1.000 sampai Rp 1.500 per kilogram di tingkat pengepul. Jadi wajar kalau harga jual garam olahannya saat itu juga murah," ujar Suliyem. (Dwi)

 

BERITA REKOMENDASI