Warga Diminta Waspadai Angin Kencang

Editor: Ivan Aditya

KARANGANYAR, KRJOGJA.com – Kerusakan hunian dan ladang pertanian akibat angin kencang perlu diwaspadai di peralihan musim kemarau ke penghujan. Kerusakan rumah terjadi di Jenawi dan Jatiyoso. Kejadian pertama di Dukuh Glagah, Rt 05/Rw II, Desa Anggrasmanis, Kecamatan Jenawi.

Angin kencang menghancurkan atap rumah milik Hartono Sarimo (50) dan Supardi (45) pada Minggu (07/10/2018) pukul 02.00 WIB. Atap rumah Supardi yang diterbangkan angin menimpa atap rumah tertangganya itu sampai hancur.

Angin kencang juga mengamuk ke sejumlah rumah di Dukuh Ngantirejo, Rt 03/Rw III, Desa Beruk, Kecamatan Jatiyoso di hari yang sekitar pukul 04.00 WIB. Dapur rumah ukuran 3 meter x 6 meter milik Painem (56) dan atap rumah milih Warni (50) porak poranda.

Keesokan harinya, Senin (08/10/2018), angin kencang merobohkan pohon beringin kemudian menimpa rumah Sangad (43) di Dusun Cetho, Desa Gumeng, Jenawi. Selain menghancurkan dapur, seekor sapi di dalamnya tewas.

“Tim reaksi cepat kebencanaan di desa, kecamatan dan dusun disiapkan kembali menghadapi segala kemungkinan. Potensi angin kencang di musim pancaroba. Ancamannya di rumah dengan struktur bangunan kurang kokoh. Jika mulai mengkhawatirkan, keluar dari rumah,” kata Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar, Hendro Prayitno, Kamis (10/10/2018).

Disela pengecekan lokasi terdampak angin kencang, petugas BPBD mengingatkan warga lebih waspada. Selain angin kencang, bangunan rumah milik Sugimin (58) retak di sejumlah bagian, seperti dinding dapur ukuran 10 meter x 3 meter, kamar mandi 2 meter x 3 meter, kamar tidur 3 meter x 3 meter.

“Warga masih tinggal di rumah itu. Tetapi saat hujan, warga diungsikan ke lokasi lebih aman. Begitu hujan reda, mereka kembali ke rumah,” tutur dia.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan, Supramnaryo menyarankan petani lebih bijak bercocok tanam di peralihan musim. Potensi kerusakan tanaman lebih tinggi dan serangan hama lebih ganas.

“Angin kencang membawa hama dari satu ladang ke ladang lainnya. Untuk tanaman buah, proses alami dapat gagal karena bunga rontok. Angin kencang juga merusak. Namun, kami mempersilakan petani melaporkan kerusakan tanaman pangan akibat bencana alam. Akan diganti bibit,” katanya.

Sejauh ini, petani relatif bertahan dengan antisipasi sederhana. Biasanya, bantuan bibit pascabencana alam dikucurkan mendekati musim tanam baru. (Lim)

BERITA REKOMENDASI