Warga Pelosok Negeri Berburu Berkah di Jolenan Somongari

PURWOREJO, KRJOGJA.com – Masyarakat Desa Somongari Kecamatan Kaligesing Kabupaten Purworejo menggelar upacara adat merti desa Jolenan, Selasa (15/10). Ribuan pengunjung dari berbagai daerah di Indonesia, memadati tradisi yang digelar setiap dua tahun itu. 

Mereka berebut hasil bumi yang dipasang pada jolen atau ancak, ketika diarak keliling desa. Dalam Jolenan tahun 2019, warga membuat 43 ancak dari bambu dan janur kelapa. Warga mengisi ancak dengan aneka makanan berbahan hasil bumi Somongari, serta buah-buahan yang dibudidayakan petani setempat. Jolen dibuat secara swadaya oleh warga, termasuk para mereka yang sukses di tanah rantau. 

"Jolenan itu sebagai wujud syukur masyarakat atas berkah rezeki yang dilimpahkan Tuhan dalam dua tahun terakhir," ungkap Kepala Desa Somongari, Subagiyo, kepada KRJOGJA.com, disela kegiatan.

BACA JUGA :

Fran Suharmadi Pimpinan DPRD Purworejo

Lukisan Senja di Bukit Kaliurip

Upacara diawali dengan tirakatan pada Senin malam. Sebelum arak-arakan jolen, warga kembali menggelar kenduri pada Selasa pagi. Sejumlah warga laki-laki mengangkat jolen dan dikumpulkan di halaman kantor desa.

Setelah doa pembuka dan sambutan sejumlah pejabat, jolen diarak keliling desa. Arak-arakan diakhiri dengan kenduri di Makam Kedono-Kedini. Makanan yang ada dalam jolen digelar dan diperebutkan warga setelah pembacaan doa. Warga juga berebut berbagai sarana yang digunakan dalam jolenan, seperti tusuk bambu dan janur.

Menurutnya, jolen juga bermakna "ojo kelalen" atau manusia jangan lupa dengan Tuhan. Hidup, rezeki, jodoh, katanya, semua berasal dari Tuhan Yang Mahakuasa. "Manusia bisanya berikhtiar, ketika kita mendapat berkah, maka alangkah baiknya berbagi dengan sesama. Maka Jolenan juga bentuk sedekah kami kepada siapapun yang berkunjung ke Somongari," terangnya.

Pengunjung asal Magetan Jawa Timur, Giyono mengatakan, baru pertama kali hadir di Jolenan Somongari. Ia diajak temannya yang sudah beberapa kali datang ke acara adat itu. "Saya ke sini ngalap berkah, pulang bawa tusuk bambu, niatnya ditanam di deat pohon durian agar buahnya lebat," tuturnya.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Dinparbud) Purworejo Agung Wibowo AP mengatakan, Jolenan merupakan daya tarik wisata budaya Purworejo. Pemerintah berupaya mengangkat Jolenan antara lain dengan membuatkan paket wisata dan mempromosikannya kepada publik.

Pelestarian upacara adat itu juga demi mendukung program tahun kunjungan Romansa Purworejo 2020. "Harus bisa dikemas dan dijadikan daya tarik, sebab Jolenan hanya ada di Somongari. Apalagi ada beberapa proyek besar infrastruktur seperti Bandara Internasional Yogyakarta (BIY), Bendungan Bener dan Badan Otorita Borobuduryang bisa dimanfaatkan mengangkat wisata Purworejo," tegasnya. (Jas)

BERITA REKOMENDASI