Warga Sibatur Minta Direlokasi

Editor: Ivan Aditya

PURWOREJO, KRJOGJA.com – Pemerintah Desa (Pemdes) Jelok Kecamatan Kaligesing Kabupaten Purworejo mengusulkan relokasi 26 warga Dusun Sibatur. Puluhan keluarga itu tinggal di kawasan rawan bencana tanah longsor.

Ketua Jelok Siaga Bencana (Jegana) Imam Prayodi mengatakan, relokasi diusulkan dengan dasa hasil penelitian geolog Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) beberapa waktu lalu. "Peneliti menyimpulkan kawasan Sibatur tidak layak huni," ujarnya kepada KRJOGJA.com, Jumat (05/01/2017).

Usulan disampaikan kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purworejo akhir Desember 2017. Pemdes dan masyarakat tidak memiliki kemanpuan untuk melakukan relokasi secara mandiri.

Menurutnya, relokasi merupakan solusi untuk mencegah ancaman bencana. Ratusan warga Sibatur selalu dihantui longsor akibat labilnya bukit di permukiman mereka.

Bahkan alat Early Warning System (EWS) curah hujan dan longsor beberapa kali berbunyi. Rekahan tanah sepanjang kurang lebih 30 meter dengan lebar 15 – 20 sentimeter muncul di bukit. "Untuk EWS longsor terpicu munculnya rekahan itu, jadi tanah mulai bergerak lepas, entah kapan akan longsor," ungkapnya.

Tanda ancaman, katanya juga terlihat dari air Sungai Reso berhulu di Sibatur berwarna cokekat keruh tiga hari terakhir. Padahal Sungai Mongo yang juga melintasi desa itu airnya lebih jernih. "Bahkan hujan lebat kemarin, Sungai Reso tidak banjir besar seperti biasanya. Kemungkinannya sebagian air hujan masuk dalam tanah," tuturnya.

Warga, katanya, berharap pemerintah dapat merealisasikan usulan tersebut. "Sejak sebulan ini warga mengungsi. Mereka diliputi kekhawatiran akan terjadi bencana," ucapnya.

Sementara itu, peneliti PVMBG Ir Anas Luthfi MT mengemukakan, geolog datang mengecek dan telah menyampaikan rekomendasi kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Purworejo. "Tidak layak huni dan rekomendasinya adalah relokasi," tandasnya. (Jas)

BERITA REKOMENDASI