Warga Temanggung Keluhkan Kenaikan Harga Sembako

TEMANGGUNG, KRJOGJA.com – Warga dan pedagang berkeluh kenaikkan gula, telur, minyak goreng dan sejumlah komoditas lain. Warga berharap pemerintah segera menurunkan harga dengan operasi pasar, sehingga beban warga menjadi terkurangi. Sedang bagi pedagang, penjualan diharapkan meningkat.

Seorang warga, Mulyani (38) mengatakan terpaksa harus berhitung ulang dalam berbelanja. Harga sejumlah komoditas naik drastis dalam beberapa pekan terakhir. Komoditas tersebut, antara lain bawang putih, minyak goreng, telur dan gula pasir.

“Gaji tidak naik, tetapi harga kebutuhan memasak naik. Harus hitung ulang, dalam berbelanja,” kata Mulyani, ditemui disela berbelanja di Pasar Kliwon Temanggung, Jumat (21/2/2020).

Pembeli lainnya, Eni Sarofah mengatakan ibu rumah tangga harus pandai memutar otak dalam berbelanja agar kebutuhan tercukupi tanpa mengurangi gizi keluarga. Dicontohkan, telur terpaksa dikukus, atau direbus karena harga minyak goreng naik, konsumsi telur dikurangi dan diganti dengan tahu dan tempe.

“Anggaran belanja keluarga tetap, sedangkan harga komoditas naik, jika tidak pandai berbelanja, bisa-bisa uang habis ditengah bulan,” katanya.

Diharapkan pemerintah segera menurunkan harga dengan kewenangannya seperti operasi pasar atau mengeluarkan kebijakan menekan harga. Warga sangat terbebani dengan kenaikkan harga, sementara pendapatan cenderung turun. “Kami mohon Pak Jokowi bisa menurunkan harga,” katanya.

Seorang pedagang sembako di pasar Kliwon, Kolifah (51) mengatakan kenaikkan harga membuat omset penjualan menurun, karena warga mengurangi pembelian. “Uang warga tidak lagi cukup untuk membeli sesuai yang dirancang di rumah, warga membeli yang pokok atau mengurangi pembelian kebutuhan,” katanya.

Dia mengatakan harga minyak goreng curah naik dari Rp 9.000 perkilogram menjadi Rp 11,5 ribu perkilogram. Minyak goreng kemasan dari Rp 130 ribu per dos isi 12 liter menjadi Rp 146 ribu per dus isi 12 liter.

Harga gula pasir naik Rp 12,5 ribu menjadi Rp 15 ribu per kilogram. Satu sak isi 50 kilogram kini Rp 700 ribu, dari sebelumnya Rp 565 ribu perkilogram. Meski begitu pasokan tetap lancar. Berapapun yang diminta dipenuhi pemasok.

“Hanya saja kini penjualan sepi. 50 sak dahulu 1 minggu habis, kini menjadi 2 minggu,” katanya.

Dikatakan kenaikkan harga gula pasir menurut pemasok karena tidak ada impor gula pasir sementara di dalam negeri stok menipis sebagai dampak panen tebu yang berkurang dan menjadikan produktivitas menurun.

Pedagang lainnya, Sitiqomah mengatakan harga bawang putih kini Rp 60 ribu per kilogram dari harga Rp 25 ribu per kilogram. Kenaikkan berdasar pemasok karena kurangnya stok, akibat tidak ada impor. Budidaya bawang putih di dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan dipasar.

“Harga telur ras juga naik dari Rp 19 ribu per kilogram menjadi Rp 25 ribu perkilogram. Pasokan lancar, kenaikkan karena produksi sedikit,” katanya.

Dia berharap pemerintah segera menurunkan harga komoditas, sebab berpengaruh negatif di pasar. Omset penjualan turun, pendapatan pedagang menjadi turun, karena sepi pembeli. “Warga pun kesulitan membeli sembako karena harga-harga cenderung tidak terjangkau,” katanya.(Osy)

BERITA TERKAIT