Warga Tolak Penambangan Batu Bukit Wadas

Editor: Ivan Aditya

PURWOREJO (KRjogja.com) – Masyarakat Desa Wadas Kecamatan Bener Kabupaten Purworejo menolak rencana penambangan batu di Bukit Wadas. Batu di bukit itu dikabarkan akan diambil sebagai material urukan proyek Bendungan Bener di Sungai Bogowonto di Desa Guntur Bener.

Penolakan itu diwujudkan dalam memasang sejumlah baliho di sepanjang jalan desa. Selain itu, warga menggelar mujahadah dan berdoa agar rencana pengerukan itu tidak dilakukan di Desa Wadas. "Kami juga membentuk Kelompok Masyarakat Desa Wadas (Komadewa) untuk wadah aspirasi warga," ungkap Sumarno, Koordinator Komadewa, kepada KRjogja.com, Selasa (06/09/2016).

Menurutnya, penolakan itu bukan berarti masyarakat tidak mendukung pembangunan Bendungan Bener. Warga tidak ingin bukit dan hutan yang selama ini menjadi ladang penghidupan menjadi rusak.

Apalagi, katanya, belum ada informasi resmi terkait pemanfaatan batu untuk pembangunan bendungan. "Kabarnya simpang siur, tidak ada informasi jelas. Namun faktanya pernah dilakukan pengeboran untuk mengambil sampel batu dan pengukuran tanah calon jalur transportasi proyek," ucapnya.

Warga, katanya, kebingungan dan resah dengan rencana itu. Mereka bersepakat menolak pengambilan batu dari bukit untuk keperluan apapun. "Komadewa memfasilitasi warga, termasuk bentuk antisipasi agar tidak terjadi hal yang menyimpang. Prinsip kami memperjuangkan penolakan dengan tetap mengedepankan musyawarah," tegasnya.

Warga Dusun Kaliancar Wadas, Ponijo mengatakan, penolakan itu karena warga khawatir dengan kehidupan setelah proyek selesai. Menurutnya, akan muncul banyak persoalan tidak hanya terkait mata pencaharian warga.

Dikatakan, persoalan yang diprediksi muncul antara lain hilangnya mata pencaharian warga dari hasil hutan, perubahan batas dan status pemilikan tanah, meningkatnya potensi longsor, kerusakan lingkungan serta kompensasi. "Mungkin ada kompensasi dan nilainya besar, namun tidak semua warga kami pandai memanfaatkan uang untuk kegiatan produktif. Bisa jadi uangnya habis, tanah hilang dan akhirnya miskin lagi," tuturnya. (Jas)

BERITA REKOMENDASI