Wereng Serang 750 Hektare Sawah di Purworejo

Editor: Ivan Aditya

PURWOREJO, KRJOGJA.com – Hamparan sawah seluas 750 hektare di Kabupaten Purworejo diserang hama Wereng Batang Cokelat (WBC). Hama itu dinilai menjadi ancaman karena menyerang tanaman padi umur muda yang baru ditanam petani di sawah mereka.

WBC menyerang sawah seluas 262 hektare (ha) di Kecamatan Pituruh, 185 ha di Gebang, 144 ha Purwodadi, 108 ha di Ngombol, 20 ha di Bayan, 20 ha di Kutoarjo, delapan hektare di Kaligesing, tiga hektare di Bener. “Luasan ratusan hektare dengan intensitas ringan sampai sedang. Namun menjadi perhatian pemerintah karena menyerang tanaman usia muda,” ungkap Kepala Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan (DPPKP) Purworejo Wasit Diono, kepada KRJOGJA.com, Kamis (14/05/2020).

Menurutnya, potensi kerawanan karena WBC bisa menyebabkan petani gagal panen. Serangan itu, katanya, berbeda dengan temuan WBC pada musim tanam I tahun 2020 yang terjadi menjelang akhir musim panen. Petani masih bisa menyelamatkan tanaman padi hingga panen tiba.

Seharusnya, lanjut Wasit, petani menjeda budidaya dengan menanam palawija setelah padi musim pertama. Namun, karena kebiasaan pola tanam padi-padi-palawija atau padi sepanjang tahun, katanya, petani tidak menanam palawija. “Untuk itu rantai siklus WBC tidak terputus dan berlanjut di musim tanam kedua. Kami memberi perhatian khusus dan menggerakkan seluruh unsur penyuluh untuk membantu petani, prinsipnya jangan sampai WBC meluas dan mengganggu produksi beras Purworejo,” terangnya.

Kegiatan pengendalian WBC dilakukan secara masif di desa-desa yang sawahnya terserang. Bahkan Bupati Purworejo Agus Bastian SE MM dan Kepala Laboratorium Hama Penyakit Tanaman Wilayah Kedu Ir Retno Dyah Rahmawati, ikut memantau langsung pengendalian hama di Desa Tunjungan, Kecanmatan Ngombol. Puluhan petani setempat dilibatkan untuk menyemprot belasan hektare sawah.

“Penyemprotan memang harus satu hamparan, kalau tidak, wereng hanya akan berpindah ke petak sebelahnya dan menyerang lagi. Pengendalian di desa itu karena pertimbangan tingginya populasi hama, mencapai sepuluh ekor perumpun usia 7 – 14 hari setelah tanam,” paparnya.

Bupati Purworejo mengemukakan, pengendalian merupakan upaya bersama demi menjaga ketahanan pangan di wilayah Purworejo. “WBC menjadi perhatian khusus karena bisa mengancam ketahanan pangan, sehingga harapan kami gerakan massal itu bisa mengendalikannya,” tandasnya. (Jas)

 

BERITA REKOMENDASI