Workshop Angkat Sejarah Gang Afrikan

Editor: Ivan Aditya

PURWOREJO, KRJOGJA.com – Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Dinparbud) Kabupaten Purworejo menggelar workshop sejarah lokal dengan sasaran guru sejarah setempat. Kegiatan itu mengangkat sejarah Gang Afrikan di Kelurahan Pangen Juru Tengah Purworejo yang selama ini tidak dikenal masyarakat.

Kasi Kesejarahan Museum Cagar Budaya Nilai Budaya dan Tradisional Dinparbud Purworejo Sajiwan mewakili Kepala Dinparbud Purworejo Agung Wibowo mengatakan, workshop merupakan upaya pemkab mengangkat sejarah lokal. "Ada beberapa situs dan sejarah yang selama ini belum terangkat, salah satunya adalah sejarah Gang Afrikan," ungkapnya kepada KRJOGJA.com, Jumat (16/08/2019).

Menurutnya, sejarah itu baru dipahami sebagian masyarakat karena selama ini belum pernah ada dalam buku pelajaran sekolah. Padahal sejarahnya, masyarakat Afrika Barat yang dikenal sebagai Londo Ireng, pernah bermukim di gang tersebut.

Mereka tinggal di kompleks gang itu karena bekerja kepada Belanda sebagai tentara bayaran untuk memerangi pejuang Indonesia. Mereka berkeluarga dan berketurunan di Gang Afrikan.

Namun jatuhnya pemerintah Kolonial Belanda dan masuknya Jepang, berpengaruh pada kampung itu. "Sekarang sudah tidak ada lagi serdadu Londo Ireng dan keturunannya, hanya tersisa bekas bangunan rumah saja," ucapnya.

Sejarah Gang Afrikan pernah ditulis tokoh perempuan Purworejo, Endri Kusnuri dalam skripsinya. Endri, katanya, gundah dengan penggantian Gang Afrikan menjadi Gang Koplak. "Setelah menyelesaikan skripsi dan lulus, beliau menemui bupati dan meminta nama Gang Koplak dikembalikan menjadi Gang Afrikan dan disetujui. Endri juga menulis buku tentang Gang Afrikan, dan karena kiprahnya itu, maka kami undang untuk memberi materi dalam workshop," terangnya.

Selain mendapat materi sejarah Gang Afrikan, peserta diajak mengunjungi Gang Afrikan, Masjid Loano, Situs Benteng Loano, dan Situs Sitihinggil. Dinas mewajibkan peserta membuat tulisan atau materi pembelajaran tentang sejarah tempat-tempat tersebut.

Materi tersebut, katanya, dapat disampaikan kepada peserta didik disela pembelajaran sejarah yang mereka ajarkan. "Materi pembelajaran atau tulisan tentang sejarah itu juga jadi tiket peserta mendapat sertifikat. Tapi tujuan utama kami adalah peserta bisa menyebarluaskan sejarah lokal Purworejo kepada anak," tandasnya. (Jas)

BERITA REKOMENDASI