3.537 Warga Tujuh Desa Kekurangan Air Bersih

Editor: Ivan Aditya

SUKOHARJO, KRJOGJA.com – Jumlah desa dan warga terdampak kekeringan akibat musim kemarau panjang sekarang terus mengalami penambahan. Apabila pada akhir Agustus lalu hanya ada Sebanyak 623 Kepala Keluarga (KK) atau 2.088 jiwa di lima desa di tiga kecamatan, maka awal September bertambah menjadi tujuh desa di tiga kecamatan sebanyak 1.138 KK atau 3.537 jiwa.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sukoharjo Sri Maryanto, Selasa (15/09/2020) mengatakan kondisi wilayah di Sukoharjo khususnya di Kecamatan Tawangsari, Weru dan Bulu semakin kering terdampak musim kemarau panjang. Kekeringan mengakibatkan warga disebagian desa ditiga kecamatan tersebut mengalami kekurangan air bersih.

Sumur yang biasanya diandalkan warga untuk mendapatkan air bersih sekarang sudah mengering. Kondisi tersebut membuat warga terpaksa meminta bantuan air bersih ke Pemkab Sukoharjo maupun donatur lainnya.

Kondisi kekurangan air bersih di wilayah selatan Sukoharjo meliputi Kecamatan Tawangsari, Weru dan Bulu sudah diprediksi sebelumnya oleh BPBD Sukoharjo. September diperkirakan merupakan puncak musim kemarau. Cuaca semakin panas dan menyebabkan warga terdampak kekeringan.

“Ada penambahan jumlah desa dan warga terdampak kekeringan akibat kekurangan air bersih dimana September ini merupakan puncak musim kemarau. Cuaca sekarang sangat panas dan berpengaruh besar terhadap kondisi wilayah di Kecamatan Tawangsari, Weru dan Bulu,” ujarnya.

Sri Maryanto menjelaskan, kondisi sekarang tidak separah dibandingkan musim kemarau tahun 2019 lalu. Pada tahun 2020 ini musim kemarau mengalami kemunduran mengingat hingga awal Agustus lalu dibeberapa wilayah di Sukoharjo masih turun hujan. Hujan tersebut secara langsung mampu menjadi sumber tambahan air bersih di sumur warga.

Mundurnya musim kemarau berdampak dengan masih sedikitnya desa terdampak kekeringan. Sebab kondisi sekarang sumur air masih menyimpan air bersih meski debitnya terus mengalami penurunan.

“Pada kondisi Agustus tahun 2019 lalu sesuai data BPBD Sukoharjo ada sekita 12 desa terdampak kekeringan, sedangkan awal September tahun 2020 ini baru ada tujuh desa. Itu disebabkan mundurnya musim kemarau,” lanjutnya.

BPBD Sukoharjo memperkirakan jumlah warga kekurangan air bersih terdampak kekeringan meningkat pada September mendatang. Bulan depan diperkirakan merupakan puncak musim kemarau. (Mam)

BERITA REKOMENDASI