Aksi Nyata Selamatkan Sungai Pusur untuk Masyarakat

KLATEN, KRJOGJA.com – Seluruh wilayah Indonesia merupakan daerah rawan bencana. Sepanjang tahun 2017 telah terjadi 2.372 bencana di Indonesia. Mengakibatkan 377 meninggal dunia dan hilang, serta 3,49 juta jiwa terdampak dan mengungsi. Sedangkan di tahun 2018, tren bencana meningkat. 

Hal itu dikemukakan, Asisten Deputi pengurangan Risiko Bencana Kementrian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Iwan Eka S, dalam kegiatan aksi kolektif penyelamatan Sungai Pusur melalui kepedulian masyarakat kawasan sub DAS Pusur yang berlangsung Sabtu dan Minggu, tanggal 1 hingga 2 Desember 2018, di Polanharjo, Klaten.

Sehubungan hal itu pihaknya mengajak masyarakat untuk peduli lingkungan, serta meningkatkan kapasitas masyarakat terkait engurangan riesiko bencana.

Menurut Iwan Eka, ada beberapa kelompok ancaman bencana. Antara lain hidrometeorologi, seperti tanah longsor, banjir, kekeringan, cuaca ekstrim, abrasi, dan puting beliung. Sebanyak 92 persen bencana yang terjadi di Indonesia berada dalam kelompok ini. Selain itu ada bencana geologi, seperti gempa bumi, tsunami atau letusan gunung berapi. Ancaman lainya adalah bencana kebakaran lahan hutan dan pemukiman.

Stakeholder Relation Manager PT Tirta Investama Klaten, Rama Zakaria menyampaikan aksi terkait inisiatif penyelematan Sub DAS Pusur, menghadirkan tiga orang warga. Yakni Ketua Kampung Energi, Teguh, yang memberikan testimoni tentang pengembangan kampung biogas untuk mengurangi pencemaran sungai dari limbah kotoran sapi. Joko Susanto menjelaskan tentang konservasi anggrek untuk penyelamatan plasma nuftah Merapi, dan Aris Wardoyo menyampaikan tentang forum multipihak dalam pengelolaan sub DAS Pusur melalui Pusur Institut.

Direktur Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan (LPTP) Ahmad Mahmudi mengemukakan, sebanyak 75 persen sungai di Indonesia tercemar, dan selama puluhan tahun Indonesia belum berhasil mencegah penurunan kualitas air.

Banyak sungai yang rusak akibat limbah domestik, limbah industri, maupun limbah pertanian. “Sebanyak 60 persen pencemaran sungai akibat limbah domestik, baru disusul limbah industri dan pertanian,” kata Ahmad Mahmudi.

Lebih lanjut Ahmad Mahmudi mengemukakan, ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat, tetapi kualitas air terus menurun. Untuk itu, yang diperlukan untuk menajga air adalah perubahan cara pandang, sikap dan perilaku. “Kita sudah begitu lama merasa nyaman membuang limbah di sungai. Perilaku ini harus dirubah, dan prubahan mental mesti melalaui proses pendidikan,” kata Ahmad Mahmudi.(Sit)

BERITA REKOMENDASI