Antisipasi Bencana Alam, Tim Gabungan Sukoharjo Disiapsiagakan

SUKOHARJO, KRJOGJA.com – Tim gabungan dalam kondisi siap dalam penanganan apabila terjadi bencana alam. Mereka yang disiapkan baik petugas maupun kelengkapan peralatan sampai anggaran penanganan untuk korban. Kesiapsiagaan dilakukan karena sudah masuk Januari dimana intensitas hujan semakin meningkat.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sukoharjo Sri Maryanto, Rabu (2/1/2018) mengatakan, petugas yang disiapkan meliputi sejumlah satuan seperti dari BPBD, SAR, Tagana, PMI, Polres, Kodim 0726, Satpol PP dan lainnya. Mereka memiliki tugas dan kewenangan masing masing dalam membantu penanganan apabila terjadi bencana alam. Dalam kesiapan tersebut petugas dari tim gabungan sudah melakukan persiapan dengan menggelar latihan bersama. Bahkan dalam koordinasi juga telah dilakukan komunikasi.

Pemantauan sekarang semakin diintensifkan dengan pengecekan langsung ke semua wilayah sampai ditingkat desa dan kelurahan. Bahkan di titik tertentu sampai dipersempit ditingkat perkampungan atau RT/RW. Seperti di Dukuh Nusupan, Desa Kadokan, Kecamatan Grogol dimana ada beberapa RT dan RW berada di wilayah paling rawan terkena kali pertama banjir akibat luapan Sungai Bengawan Solo.

Petugas dari tim gabungan juga memantau wilayah rawan lain seperti tanah longsor dan angin kencang. Sasarannya seperti di Kecamatan Tawangsari, Weru dan Bulu karena memiliki karekteristik perbukitan. Banyak warga disana diketahui memiliki rumah dan bertempat tinggal di sekitar perbukitan rawan longsor.

"Kesiapansiagaan petugas sudah matang melibatkan tim gabungan dari berbagai satuan termasuk para relawan. Masing masing satuan sudah melakukan pemetaan dan pemantauan wilayah rawan bencana alam," ujarnya.

Kesiapsiagaan dilakukan sebagai antisipasi terjadinya bencana alam mengingat sekarang diprediksi masuk puncak musim hujan. Dalam beberapa hari BPBD Sukoharjo memantau dibeberapa wilayah terjadi peningkatan intensitas hujan. Selain itu juga dilihat dengan adanya peningkatan debit atau volume air di Sungai Bengawan Solo.

"Bencana alam banjir mungkin paling terpantau dengan memantau kondisi Sungai Bengawan Solo. Jadi bisa kita antisipasi dan meminimalisir korban. Tapi untuk angin kencang sangat sulit karena tidak bisa diprediksi kapan datangnya," lanjutnya.

Dalam beberapa hari terakhir disejumlah wilayah di Sukoharjo diketahui terjadi angin kencang. Meski begitu kejadian tersebut tidak sampai menyebabkan kerusakan ataupun korban. Masyarakat tetap diminta selalu meningkatkan kewaspadaan dalam kondisi seperti sekarang.

Sri Maryanto mengatakan, musim hujan sekarang diperkirakan hanya akan berlangsung separuh sekitar tiga sampai empat bulan dari biasanya tahun sebelumnya enam bulan lebih. Musim hujan sendiri turun di Sukoharjo sejak November dan diperkirakan puncaknya terjadi Januari ini. Setelah itu diprediksi akan kembali masuk musim kemarau.

Kondisi curah hujan di Sukoharjo sendiri dipantau BPBD Sukoharjo masih rendah dibandingkan daerah lainnya di Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa. BPBD Sukoharjo selalu bersiap dalam menghadapi perubahan cuaca ekstrim seperti sekarang. Kesiapan tersebut dilakukan terhadap segala potensi kerawanan bencana alam yang muncul tidak hanya saat musim hujan saja namun juga sudah dilakukan antisipasi penanganan kemarau panjang.

"Perkiraan kami puncak musim hujan Januari mendatang. Tapi semua baru perkiraan mengingat perubahan cuaca sekarang sangat ekstrim dan sulit ditebak. Misal sekarang memang sudah masuk musim hujan tapi curah hujan rendah," lanjutnya.

BPBD Sukoharjo memang sudah melakukan semua persiapan penanganan bencana alam pada masyarakat. Namun yang paling dikhawatirkan justru kemarau panjang. Sebab fenomena alam tersebut sangat besar dampaknya bagi Sukoharjo. Tidak sekedar warga kekurangan air minum akibat sumur kering namun juga menyerang sektor pertanian, peternakan dan perikanan di Sukoharjo.

Khusus untuk sekarang ini BPBD Sukoharjo sedang serius kosentrasi terhadap penanganan kerawanan bencana alam banjir. Meski curah hujan rendah namun petugas tetap selalu melakukan kesiapsiagaan berupa pelatihan dan pemantauan lapangan disejumlah wilayah rawan bencana alam.

Musim hujan yang terjadi sekarang belum ada satupun temuan bencana alam terjadi di Sukoharjo. Meski begitu masyarakat tetap diminta waspada terhadap segala kemungkinan potensi yang bakal terjadi.

"Ketika hujan turun maka manfaatkan semaksimal mungkin airnya dengan membuat resapan tanah agar tidak terjadi genangan. Air itu nanti akan sangat berguna saat musim kemarau dan kemungkinan akan berlangsung panjang," lanjutnya.

Sekretaris Daerah (Sekda) Sukoharjo Agus Santosa mengatakan, Pemkab Sukoharjo selalu menganggarkan dana tidak terduga dalam APBD dengan nilai bervariasi setiap tahun. Penggunaan dana memang salah satunya untuk penanganan saat terjadi bencana alam seperti banjir.

"Baik musim hujan atau kemarau dana itu tetap bisa digunakan karena salah satu fungsinya untuk penanganan bencana alam seperti banjir dan kekeringan sampai menyebabkan warga kekurangan air bersih," ujarnya.

Dana tidak terduga yang diplot sekitar Rp 15 miliar dinilai Pemkab Sukoharjo sudah sangat mencukupi. Sebab nilai tersebut mengalami kenaikan dibanding tahun sebelumnya yang hanya sekitar Rp 10 miliar.(Mam)

BERITA REKOMENDASI