Aset Embung Giriroto Diserahkan ke Pemkab Boyolali

Editor: Ivan Aditya

BOYOLALI, KRJOGJA.com – Embung Giriroto, merupakan salah satu proyek Kementerian Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) yang telah menghabiskan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp 16 miliar. Dinamakan Embung Giriroto karena lokasinya berada di Desa Giriroto, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Danau, Situ, dan Embung (DSE) Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo, Yoga Darmawan menjelaskan, Embung Giriroto yang telah selesai di bangun di tahun 2018 tersebut berada di tanah milik Kabupaten Boyolali, untuk itu pihak Kementerian PUPR melalui BBWS Bengawan Solo menyerahkan bangunan beserta asetnya ke Kabupaten Boyolali.

Acara penyerahan tersebut digelar secara terbatas dan dengan protokol kesehatan ketat, di ruang Nakula Kantor Bupati Boyolali pada Rabu (30/06/2021). Dalam acara tersebut, Bupati Boyolali M Said Hidayat, menandatangani Surat Penyerahan Embung Giriroto dari BBWS Bengawan Solo.

“Embung Giriroto saat ini sudah selesai semua dan itu adalah tanah milik Kabupaten Boyolali, dan ini kami serahkan bangunannya beserta asetnya nanti kembali ke Boyolali,” terangnya.

Ditambahkan Yoga program pemerintah saat ini adalah membuat tampungan air sebanyak-banyaknya guna menghindari kekeringan, terlebih untuk kawasan dataran tinggi seperti di Boyolali. “Saya mengharapkan dengan adanya Embung Giriroto ini sebagai contoh untuk di Boyolali sendiri buat embung-embung yang lain,” ungkapnya.

Sementara, Kepala Bidang Pengelolaan Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Boyolali, Yovi Hardianto menerangkan bahwa aset yang diserahkan oleh BBWS Bengawan Solo adalah satu unit bangunan embung, beberapa pompa air untuk irigasi dan bangunan kantor untuk pengelolaan embung yang dilengkapi dengan fasilitas parkir dan hall, serta ruangan satpam.

Rencana ke depannya, pemerintah desa berharap untuk mengelola Embung Giriroto itu secara keseluruhan, karena saat ini telah dikembangkan sektor wisatanya. Namun, untuk mengelola Embung Giriroto sepenuhnya, pemerintah desa harus mampu menyediakan anggaran operasional dan pemeliharaan sebesar Rp 200 juta per tahun. “Jadi mereka ingin itu mereka kelola sehingga bisa menjadi pendapatan asli desa,” ujar Yovi.

Selain untuk sektor wisata, Embung Giriroto juga dipergunakan untuk irigasi area persawahan seluas 74 hektar. Sedangkan volume air yang mampu ditampung oleh Embung Giriroto adalah 48.000 meter kubik. (M-2/Sit)

BERITA REKOMENDASI