Bantuan BPBD Belum Turun, Pengungsi ‘Bantingan’ Beli Lauk Pauk

Editor: Ivan Aditya

KLATEN, KRJOGJA.com – Warga pengungsi di tempat evakuasi sementara (TES) Desa Balerante Kemalang Klaten dalam tiga hari terakhir harus ‘bantingan’ untuk membeli sayur dan lauk-pauk. Hal itu dikarenakan bantuan uang lauk-pauk dan sayuran Rp 2 juta dari BPBD sudah habis digunakan, sementara hingga Kamis (12/11/2020) belum ada bantuan tambahan.

Pantauan KRJOGJA.com di dapur umum Balerante, untuk beras masih tersedia cukp banyak, droping dari BPBD dan juga tambahan bantuan dari Kapolda Jateng. Namun demikian, untuk kebutuhan lauk-pauk setiap harinya tidak memiliki stok baik berupa barang atau uang.

Untuk makan hari pertama, relawan dapur umum mencari sayur-mayur di kebun. Mereka mengumpulkan nangka, labu siam, pepaya dan sayur mayur lainya untuk dimasak di dapur umum.

Selanjutnya Pemerintah Desa Balerante melaporkan hal itu ke BPBD dan minta bantuan, serta diberi sebanyak Rp 2 juta. Uang tersebut sudah habis dimanfaatkan untuk membeli lauk-pauk, sayur, elpiji dan lain-lain. Namun demikian, hingga Kamis siang (12/11/2020), belum ada droping dana lagi dari BPBD.

Perangkat Desa Balerante Jainu, saat dikonfirmasi membenarkan bahwa uang bantuan lauk-pauk sebesar Rp 2 juta sudah habis. “Betul, sudah tiga hari ini, dan tadi kami cari pinjaman Rp 2 juta untuk mengatasi agar bisa menyediakan makan buat warga, apalagi sekarang yang mengungsi semakin banyak. Sampai Rabu malam sudah 126 orang. Mereka makan 3 kali sehari. Tidak mungkin kami kasih mie instan terus,” kata Jainu.

Kepala BPBD Klaten Sip Anwar saat dikonfirmasi mengaku belum tahu hal tersebut. Pihaknya akan segera koordiansi terlebih dahulu terkait persoalan lauk-pauk untuk pengungsi. “Tidak ada laporan, saya kira baik-baik saja. Uangnya ada tapi pencairanya itu kan pakai proses. Saya koordinasikan dulu, nanti saya carikan dulu agar segera teratasi,” kata Sip Anwar.

Terpisah, Sekda Klaten Jaka Sawaldi mengemukakan, Pemkab Klaten masih memiliki dana besar untuk penanganan darurat. “Kita punya BTT Rp 120 Miliar, dan baru dipakai untuk penanganan Covid Rp 40 miliar. Hanya saja, BPBD ini mestinya segera komunikasi apa yang dibutuhkan, lapor ke pimpinan agar pimpinan mengambil kebijakan,” kata Jaka Sawaldi. (Sit)

BERITA REKOMENDASI