Bentuk Komunitas, Petani Porang Ngargoyoso Sukses Bersama

Editor: KRjogja/Gus

Budidaya tanaman oleh petani Dusun Nglundo, Desa/Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar beralih ke umbi porang. Hasilnya lebih menguntungkan dibanding menanam jahe dan ketela yang selama ini diandalkan menopang perekonomian masyarakat setempat.

Seorang petani muda Ngargoyoso, Warsito Dwi Pratama memulai tanam di lahan 1 hektare pada 2 tahun lalu. Modalnya sekilo benih porang yang dikenal dengan nama katak. Dengan mempelajari budidaya dan prospeknya di youtube, ia menanti panen dengan sabar.

“Perawatannya sederhana. Cukup diberi pupuk kompos sebulan sekali kalau sering hujan. Ditanam di bawah naungan pohon sengon. Kalau tanamnya dari katak, panennya butuh waktu dua musim atau setahun. Namun kalau menanamnya dari umbi, bisa dipanen satu musim kemudian atau setengah tahun,” kata Warsito kepada KR.

Panen perdana menghasilkan 3 kuintal umbi. Selain itu, katak yang tumbuh di sela batang dipakai lagi untuk modal tanam selanjutnya serta bisa dijual lagi.

“Perkilo porang Rp9 ribu. Sedangkan katak perkilo Rp220 ribu,” katanya.

Dibandingkan bercocok tanam jahe atau ketela, hasilnya tak sebagus umbi porang. Warsito mantap beralih ke unbi porang karena keuntungan lumayan bakal terus diterimanya. Indonesia merupakan penghasil porang berkualitas, terutama di Pulau Jawa. Tanaman umbi bernama latin Amorphophallus muelleri Bl ini sedang gencar diekspor ke China dan Jepang. Negara manca mengandalkan daerah penghasilnya di Indonesia, terutama di Pulau Jawa. Olahannya dipakai bahan kosmetik, farmasi hingga sumber karbohidrat makanan pokok rendah lemak dan kalori.

Lebih lanjut dikatakannya, ia sudah memiliki pengepul tetap umbi porang dari pabrik di Jawa Timur. Pabrik itu mengolahnya ke bahan setengah jadi kemudian diekspor.

BERITA REKOMENDASI