Boyolali Suplai Seperlima Produksi Lele Di Jateng

Editor: KRjogja/Gus

BOYOLALI (KRjogja.com) – Sepanjang 2016 lalu, Boyolali tercatat menyumbang seperlima dari total jumlah produksi ikan lele di Jawa Tengah, yakni sebanyak 25 ribu ton dari total produksi sebanyak 122 ribu ton. Kemandirian dalam penyediaan pakan lele menjadi salah satu kunci dalam peningkatan produksi ikan lele di Boyolali.

Peningkatan produksi lele tersebut seiring berbagai program yang digalakkan dalam upaya peningkatan produksi dan kesejahteraan peternak lele yang digalakkan. Misalnya di Desa Mliwis, Kecamatan Cepogo, meski wilayah tersebut sering mengalami kelangkaan air, namun dengan pendampingan yang dilakukan Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (B‎BPBAP) Jepara, jumlah kolam ikan lele meningkat dari 10 kolam menjadi 37 kolam. 

Hal tersebut terpapar dalam temu lapangan antara Dirjen Perikanan Budidaya dengan para pembudidaya ikan lele di Desa Mliwis, Kamis (8/9) kemarin. Direktur Produksi dan Usaha Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan, Umi Windriyani menyampaikan, ‎untuk mendorong produksi, pihaknya akan memfasilitasi agar peternak ikan mampu memenuhi kebutuhan pakan secara mandiri, diantaranya dengan memberikan bantuan alat pembuat pakan ikan. 

Faktor pakan ikan di dunia peternakan ikan ini sangat penting, sebab ketersediaan pakan secara mandiri akan mendorong efisiensi biaya produksi. "Pengadaan pakan ikan membutuhkan biaya tinggi dalam peternakan ikan. Sehingga bila mandiri dalam pengadaan, hal itu akan sangat membantu," terangnya. 

Agar nilai ikan lele lebih tinggi, lanjutnya, ia mengimbau para peternak agar melakukan diversifikasi produk, sehingga ikan lele tak sekedar dijual dalam bentuk ikan segar saja. 

Semetara itu Tri Widodo, salah satu anggota kKelompok MIna Usaha Tani Desa Doplang, Kecamatan Teras, mengatakan, pengadaan pakan ikan secara mandiri memang sangat penting, terutama untuk menekan biaya produksi. Kelompoknya yang beranggotakan 20 orang saat ini sudah mampu mandiri dalam pengadaan pakan, dimana hal tersebut mampu menekan biaya produksi hingga separuhnya. "Biaya produksi sebagian besar untuk pembelian pakan. ‎Tapi kalau pakannya bisa dibuat sendiri, tentu biaya produksinya lebih hemat dan efisien," tandasnya. (Gal)

 

BERITA REKOMENDASI