Cegah Klaster Sekolah, Guru Tidak Keluar Kota

KLATEN (KRJOGJA.com) – Sekolah tatap muka tetap aman, sepanjang guru dan murid disiplin mematuhi aturan protokol kesehatan (prokes) pencegahan covid 19. Sehubungan hal itu, para guru dihimbau untuk tidak bepergian keluar kota, jika tidak sangat penting. Selain itu juga diminta mengurangi kegiatan berkerumun.

Hal itu dikemukakan Tim Ahli Satgas Penanganan Covid 19 Kabupaten Klaten dr Rony Roekmito, Selasa (20/10) sehubungan penghentian ujicoba sekolah tatap muka di SMPN I Karangdowo, setelah ada guru yang terkonfirmasi Covid 19.

Menurut dr Rony, sebenarnya guru yang bersangkutan tidak terlibat dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka. Guru tersebut sudah sakit lambung sejak belum dilakukan uji coba KBM tatap muka, dan para guru lainya menjenguk ke rumah. Saat hasil swab keluar ternyata guru tersebut positip Covid 19. Untuk menghindari penularan, sementara KBM tatap muka di SMPN I Karangdowo dihentikan selama dua minggu.

Sedangkan untuk KBM tatap muka di empat SMP lainya tetap berlangsung. Yakni SMPN 2 Klaten, SMPN I Gantiwarno, SMPN 2 Kemalang, dan SMPN I Kebonarum.

Lebih lanjut dr Rony menjelaskan, Kabupaten Klaten merupakan daerah yang memiliki tingkat kesembuhan tertinggi di Jawa Tengah, dalam kasus pasien Covid 19. Yakni berkisar 83 persen.

Dari analisa tim ahli, tingkat penularan tertinggi di Klaten terjadi saat perjalanan keluar kota. Kemudian disusul akibat kontak erat dengan penderita dalam kota. “Ini akibat semborno tidak menerapkan prokes. Sebenarnya kalau masyarakat disiplin patuh menerapkan protokol kesehatan, ya pakai masker, jaga jarak, cuci tangan, jaga imun, ga masalah,” kata dr Rony pula.

Sehubungan hal itu, dr Rony menjelaskan, kendati tingkat kesembuhan di Klaten tinggi, masyarakat diminta untuk tetap waspada dan disiplin mematuhi protokol kesehatan.

“Kesadaraan itu harus tumbuh dari diri sendiri, jangan baru pakai masker hanya karena ada razia. Kalau masyarakat tidak disiplin, meskipun angka kesembuhan tinggi, kita tetap sulit menurunkan jumlah kasus penularan,” jelas dr Rony. (Sit)

BERITA REKOMENDASI