Daerah Pinggiran Marak Pelanggaran

Editor: Ivan Aditya

KARANGANYAR (KRjogja.com) – Berbagai pelanggaran lalu lintas justru marak di kawasan pedesaan berupa pemakaian kendaraan bermotor modifikasi sampai pengendara belum cukup umur. Ironisnya, praktik semacam itu dianggap wajar.

“Untuk menerapkan tilang membutuhkan persamaan persepsi dari seluruh stakeholder lalu lintas. Sarana dan prasarana penunjang juga transportasi dan jalan juga harus siap,” kata Kapolres Karanganyar AKBP Ade Safri Simanjuntak kepada KRjogja.com di Mapolres, Jumat (18/11/2015).

Terkait Operasi Zebra Candi 2016 yang berlangsung 16-29 November, aparat kepolisian melihat fenomena di daerah pinggiran butuh penanganan serius. Budaya masyarakat pedesaan berkontribusi dalam operasional kendaraan bermotor modifikasi seperti odong-odong, kereta kelinci (gerbong sambung), bentor, dan mesin penggiling padi.

Di sekolah wilayah pegunungan marak dijumpai pelajar usia anak-anak mengendarai sepeda motor tanpa helm dan surat menyurat berkendara. Selain itu, marak pula penjual sayur keliling memasang keranjang di atas jok sepeda motor tiap hari rute Tawangmangu-Solo.

Sementara itu dalam operasi lalu lintas selama dua pekan, Polres Karanganyar menerjunkan 47 personel internal dibantu aparat Dishubkominfo dan Kodim 0727/Karanganyar masing-masing 1 SST. Aparat bakal fokus pada pelanggaran lalu lintas angkutan umum, pribadi maupun angkutan barang. Adapun sanksi disesuaikan tingkat kesalahan mulai sedang sampai berat. Terdapat jenis-jenis pelanggaran lalu lintas, yakni pemicu kecelakaan dan macet. (R-10)

BERITA REKOMENDASI