Dampak Kemarau, Petani Sawah Tadah Hujan Mulai Kekurangan Air

Witono menjelaskan, kondisi sekarang masih sedikit lebih baik dibanding tahun lalu. Sebab dampak kekeringan baru dirasakan pada pertengahan Agustus. Sedangkan tahun lalu terjadi sejak awal Juli.

“Musim hujan tahun ini panjang dan kemarau molor. Sekarang masih lebih baik dibanding tahun lalu. Tapi bagaimanapun juga saat kemarau tetap harus cari air dari sumur pantek,” lanjutnya.

Petani asal Desa Purbayan, Kecamatan Baki, Harsoyo, mengatakan, tidak menanam padi tapi memilih menanam buah semangka. Sebab tanaman tersebut sudah dipilih sebagian petani lain saat masuk musim kemarau. Pilihan didasari karena untuk menekan besarnya biaya operasional memenuhi kebutuhan air, juga harga jual semangkat sangat tinggi.

“Tanam buah semangka karena tahan kondisi cuaca panas dan kering. Jadi tidak perlu butuh banyak air dengan menyedot menggunakan sumur pantek seperti tanam padi,” ujarnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo Netty Harjianti mengatakan, sebagian besar petani sawah tadah hujan disejumlah wilayah sudah mengalami masalah kekurangan air untuk tanaman padi. Hal tersebut disebabkan karena dampak musim kemarau sekarang. Meski dalam kondisi kering, namun belum menyebabkan situasi parah hingga membuat petani gagal panen.

“Beberapa wilayah kekeringan sudah mulai terlihat kekurangan air khususnya di sawah tadah hujan. Sedangkan sawah dialiran saluran irigasi teknis masih terpenuhi kebutuhan airnya,” ujarnya.

BERITA REKOMENDASI