Dapat Dukungan FAO, Luasan Lahan Mina Padi Akan Ditambah 25 Hektare

SUKOHARJO, KRJOGJA.com – Sistem pertanian Mina Padi akan terus dikembangkan di Sukoharjo dari 18 hektare di tahun 2018 naik menjadi 25 hektare pada tahun 2019 mendatang. Pengembangan dilakukan karena pentingnya Mina Padi dalam meningkatkan hasil produksi pertanian dan perikanan untuk menyejahterakan petani dan terpenuhinya kebutuhan pangan daerah.

Hal tersebut disampaikan Bupati Sukoharjo Wardoyo Wijaya saat menyambut kedatangan rombongan Permanent Representatives dari 8 negara, FAO Roma dan Kepala Perwakilan FAO Indonesia di Balai Desa Geneng, Kecamatan Gatak, Sukoharjo, Kamis (1/11/2018). Wardoyo menjelaskan pada tahun 2018 ini Kabupaten Sukoharjo sudah menerapkan Mina Padi seluas 18 hektare di dua wilayah yakni di Desa Dalangan, Kecamatan Tawangsari dan Desa Geneng, Kecamatan Gatak. Selama diterapkan petani dapat menikmati hasil memuaskan. Sebab dengan sistem Mina Padi hasip panen padi petani diangka 9,69 ton perhektare gabah kering panen (GKP).

Hasil panen padi yang didapat petani lebih besar dibanding petani non Mina Padi hanya mendapat 8,60 ton perhektare GKP. Melimpahnya hasil panen padi Mina Padi membuat petani untung. Hal serupa juga diterima Pemkab Sukoharjo karena target panen padi bisa lebih cepat terealisasi.

Penerapan sistem Mina Padi juga memberikan keuntungan bagi petani berupa efisiensi biaya produksi dari pengurangan pupuk dan tidak menggunakan pestisida. Sebab petani mengandalkan alam berupa pupuk alami dari kotoran ikan untuk pengembangan tanaman padi.

Hasil panen dalam sistem Mina Padi dirasakan petani tidak hanya padi saja namun juga ikan. Sebab sekali tebar ikan maka petani bisa mendapat sebanyak panen rata rata 1.000 kilogram perhektare.

"Harga padi hasil panen Mina Padi juga lebih baik karena tinggi dan ada selisih Rp 5.000 perkilogram dibandingkan panen padi non Mina Padi. Selisih harga itu membuat petani mendapatkan keuntungan lebih," ujar Wardoyo Wijaya.

Besarnya keuntungan dan pentingnya Mina Padi membuat Pemkab Sukoharjo menaruh penting program tersebut dengan berencana menambah luasan lahan Mina Padi dari sebelumnya 18 hektare di Desa Dalangan, Kecamatan Tawangsari dan Desa Geneng, Kecamatan Gatak menjadi 25 hektare. Penambahan akan dilakukan di desa dan kecamatan lainnya yang belum menerapkan. Hal itu sebagai langkah pemerintah dalam pemerataan penerapan sistem.

Untuk merealisasikan penambahan luasan lahan Mina Padi maka Pemkab Sukoharjo sangat berharap dukungan anggaran dari FAO, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Pertanian, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah, serta dinas terkait. Dorongan juga dilakukan petugas terhadap para petani disejumlah wilayah untuk bersedia menerapkan sistem Mina Padi.

Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo Netty Harjianti mengatakan, penambahan luasan lahan untuk menerapkan sistem Mina Padi di Sukoharjo sangat terbuka lebar.  Sebab di Sukoharjo ada potensi lahan sawah seluas 20.518 hektare. Dari luasan tersebut ada 14.556 hektare atau 70,94 persen menggunakan saluran irigasi teknis untuk mendapatkan air. Sedangkan sisanya sawah tadah hujan dimana air sepenuhnya mengandalkan air hujan.

Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo optimis targer penambahan luasan lahan Mina Padi akan terwujud tahun depan. Sebab sekarang di wilayah Desa Dalangan, Kecamatan Tawangsari dan Desa Geneng, Kecamatan Gatak sudah ada beberapa petani menyatakan siap menerapkan sistem Mina Padi. Kondisi serupa juga terjadi di wilayah lain yang menyatakan ketertarikannya.

"Sekarang masih persiapan perluasan dan nanti petugas akan melakukan sosialisasi dan pendampingan pada petani dan kelompok tani," ujarnya. (Mam)

BERITA REKOMENDASI