Dijajaki, Integrasi Antar Desa Wisata

KARANGANYAR, KRJOGJA.com – Integrasi antardesa wisata diyakini memberi keuntungan ekstra bagi penduduknya. Tahun ini, lima desa dijadikan pilot project yakni Desa Gerdu, Karang dan Salam di Kecamatan Karangpandan serta Desa Puntukrejo dan Berjo di Kecamatan Ngargoyoso.

Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Karanganyar Titis Sri Jawoto mengatakan lima desa itu terkoneksi jalan milik kabupaten dan dapat ditempuh moda transportasi pribadi maupun umum. Masing-masing desa itu memiliki daya tarik wisata alam, kuliner, kerajinan maupun budaya yang menarik wisatawan untuk singgah. Menurutnya, destinasi lima desa itu dapat diramu dalam satu paket perjalanan yang tidak menguras waktu.

“Dampak ekonomi di desa wisata itu nendang. Sangat bisa dimaksimalkan. Yang diuntungkan penduduknya karena mereka pemilik saham sebenarnya. Bukan sekadar multiplayer efek saja. Tapi destinasinya juga ikut ramai. Jadi, pengunjung tidak hanya ke satu tempat langsung pulang. Tapi diarahkan ke lokasi-lokasi berdekatan. Satu atau dua hari bisa menikmati semua sajiannya,” katanya kepada KR di kantornya, Jumat (31/1).

Di lima desa itu akan disentralkan di Desa Karang. Di desa ini terdapat obyek wisata keluarga ‘Amanah’, sejumlah rumah makan tematik seperti Jawa Dwipa, Mbok Yem dan penginapan. Selain itu, terdapat pusat kerajinan blangkon dan produk kraft lainnya. Berdekatan desa ini terdapat Candi Sukuh, Tenggir Park, Jumog dan Telaga Madirda. Sedangkan perbatasan sisi selatan di Desa Gerdu, terdapat kampung wisata bahasa berbasis spiritual. 

Di kompleks tersebut juga menawarkan kuliner berkonsep persawahan. Pengunjung juga dapat melihat lebih dekat proses pembuatan batik dan menikmati keindangan air terjun Jurang Jero. Untuk sisi barat, Desa Salam memiliki kuliner khas satai kelinci dan taman patung Semar. Kemudian di Desa Puntukrejo menawarkan wisata ekstrem tubing Gowa Sari, rumah makan Bali Ndeso, RM Mbak Ning dan Kampung Karet.

“Akan disatukan dengan titik parkir yang akan pemerintah sediakan. Tahun ini dikerjakan penyatuannya. Sedangkan di Desa Karang sendiri, terdapat wisata halal yakni olahraga sunah rasul. Yakni berenang, memanah dan berkuda. Akan disediakan infrastrukturnya,” katanya.

Titis meyakini laju perputaran uang di desa wisata terintegrasi bakal dirasakan langsung manfaatnya oleh pelaku usaha maupun penduduk setempat. Penyerapan tenaga kerja juga lebih baik.

“Dibanding PAD yang masuk ke pemerintah, uang yang langsung diperoleh masyarakat dari desa wisata jauh lebih besar. PAD pemerintah di sektor pariwisata hanya Rp 2 miliar setahun,” katanya. (Lim)

 

BERITA REKOMENDASI