Dugaan Kecurangan, Siswa Mampu Memiskinkan Diri Pakai SKTM

SUKOHARJO,KRJOGJA.com – Dugaan kecurangan dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMA terjadi di Sukoharjo karena calon siswa menggunakan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM). Beberapa SKTM diketahui tidak tepat sasaran karena pemiliknya merupakan siswa dari keluarga mampu yang sengaja memiskinkan diri demi bisa mengambil kuota di sekolah negeri.

Orang tua murid H, Rabu (14/6/2017) mengatakan, merasa dirugikan dengan sistem PPDB SMA. Sebab saat mendaftarkan anaknya PP di SMAN 1 Sukoharjo menemukan dugaan kecurangan dari calon siswa baru khususnya dari kuota siswa miskin. Sesuai ketentuan pemerintah calon siswa baru bisa mendapat kuota siswa miskin dengan melampirkan Kartu Indonesia Pintar (KIP) saat mendaftar sekolah.

Pada saat pendaftaran ternyata juga ditemukan calon siswa baru menggunakan SKTM. “Saat awal mendaftar anak saya PP berada di posisi atas. Namun kemudin bergeser ke bawah karena adanya pendaftar menggunakan SKTM dan KIP. Saat saya cek ternyata ada beberapa SKTM itu tidak benar atau tidak tepat sasaran,” ujarnya.

H menjelaskan, di SMAN 1 Sukoharjo total ada 45 KIP yang dipakai siswa untuk mendaftarkan diri. Saat diperiksa menggunakan website resmi www.pipsd.kemendikbud.go.id ternyata hanya ada 8 yang valid. Sedangkan sisanya 37 lainnya diduga paslu karena tidak tercantum.

“SKTM tersebut kami heran itu keluaran baru yang dikeluarkan Juni atau menjelang PPDB. Beberapa diantara pemegan SKTM yang mendaftarkan diri ini ternyata berasal dari keluarga mampu,” lanjutnya.

Mendapati kondisi tersebut H mengajukan keberatan kepada pihak SMAN 1 Sukoharjo dan provinsi. “Saya ingin keadilan sebab anak saya mendaftar sesuai aturan. Kalau ada pelanggaran maka harus ada penindakan,” lanjutnya.

Kepala SMAN 1 Sukoharjo Sri Soewarsi mengatakan, pihak sekolah hanya menerima berkas pendaftaran dari calon siswa. Berkaitan dengan penggunaan SKTM itu dikeluarkan oleh pihak RT/RW, desa, kelurahan dan sepengetahuan kecamatan.

“Akan dilakukan verifikasi data setelah ada keluhan pengaduan dari orang tua murid,” ujarnya.

Sri Soewarsi menjelaskan, H sebagai orang tua murid PP sudah mengadukan masalah ke pihak provinsi. Selanjutnya dari provinsi meminta kepada SMAN 1 Sukoharjo untuk menindaklanjuti laporan.

“Setelah dilakukan krocek sesuai dengan nama yang diadukan orang tua murid H ternyata benar siswa berasal dari keluarga mampu,” lanjutnya.

SKTM tersebut muncul lantaran Ketua RT tempat asal siswa merasa tidak enak apabila tidak membantu. “Ketua RT-nya pekewuh jadi dibuatkan SKTM. Padahal siswa itu berasal dari keluarga mampu,” lanjutnya.

Sementara itu pada pelaksanaan PPDB SMA di Sukoharjo juga muncul keluhan lain berupa kekeliruan database calon siswa baru. Kekeliruan diketahui saat proses pendaftaran di SMAN 1 Sukoharjo.

“Nilai anak saya dalam Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional (SKHUN) untuk Matematika 75 dan Bahasa Inggris 70. Namun dalam database ditulis Matematika hanya 30 dan Bahasa Inggris 20,” ujar orang tua murid Sutarman warga Gayam, Sukoharjo Kota. (Mam)

BERITA REKOMENDASI