Embung Panggang Dinilai Tidak Tepat Guna

Editor: KRjogja/Gus

KLATEN (KRJOGJA.com) – Pembangunan embung di Desa Panggang Kecamatan Kemalang, Klaten, selain perencanaanya kurang bagus juga dinilai tidak tepat guna.

Pemerhati lingkungan hidup, Joko Yunanto Kamis (5/4) mengemukakan, semestinya pemerintah Kabupaten Klaten melakukan peresapan air atau konservasi dengan cara yang lebih alamiah. Yakni dengan melakukan reklamasi lahan bekas penambangan secara optimal.

Menurut Joko Yunanto, keberadaan embung di Desa Panggang tidak tepat guna, karena yang lebih penting dilakukan adalah bagaimana mereklamasi lahan yang sudah rusak parah di wilayah lereng Merapi tersebut, agar kembali menjadi daerah tangkapan air. Untuk itu diperlukan koordinasi lintas sektoral dalam perencanaan pembangunan.

“Embung itu tidak tepat guna. Yang dibutuhkan adalah reklamasi untuk kelestarian alam, kalau alamnya bagus otomatis peresapan air akan bagus. Di atas itu alam sudah rusak parah. Ke depan bencana mengintai, lalu siapa yang tanggungjawab, propinsi, pemkab, penambang atau siapa,” kata Joko Yunanto.

Terpisah Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Tajudin Akbar mengemukakan, pembangunan embung tersebut dimaksudkan untuk konservasi dan penampungan air.

Lebih lanjut Tajudin mengemukakan, terkait dengan adanya kerusakan dan belum berfungsinya embung tersebut, pihaknya sudah memberikan peringatan pada  rekanan. “Rekanan sudah kami peringatkan dan sudah dilakukan perbaikan. Pembenahan pada sebagian lapis  kedapnya, lalu ada beberapa yang kemarin sudah diperbaiki, waktu sampai akhir tahun ini,” kata Tajudin Akbar.

Menurut Tajudin, pembangunan embung tersebut merupakan usulan dari bawah, dan berada di tanah asset desa. “Fungsi konservasi ini maksudnya agar air hujan yang ke bumi tidak langsung mengalir ke laut, tapi meresap ke dalam bumi, makanya dasar embung dibuat berupa tanah biar air meresap,” jelas Tajudin.

Tajudin juga menjelaskan,  bangunan embung saat ini sudah sesuai kontrak. Embung di Desa Panggang tersebut selesai dibangun pada Desember 2017. Selama setahun, pemeliharaan masih menjadi tanggung jawab rekanan pelaksana proyek pembangunan.

Embung di Desa Panggang tersebut kini menjadi sorotan berbagai pihak, karena embung masih kering, belum bisa menampung air. Sesuai detailed engineering design (DED), embung di Desa Panggang membutuhkan anggaran Rp 2,3 miliar. Dalam proses penganggaran dialokasikan sebesar Rp 1,9 miliar, namun setelah lelang, anggaran pembangunan embung menyusut menjadi Rp 1,5 miliar. (Sit)

BERITA REKOMENDASI