Fajar Tri Amboro Pilih Perhotelan Sebagai Jalan Hidup

Editor: KRjogja/Gus

Awalnya coba-coba, akhirnya terjerumus dan menikmati tenggelam dalam dunia perhotelan. Itulah Fajar Tri Amboro, General Manager Tjokro Hotel Klaten.

Ia mengaku didewasakan oleh keadaan, dan dibuat lebih waskita karena usia, sehingga bisa lebih menghargai segala sesuatu, termasuk menghargai diri sendiri. “Apapun itu, ternyata punya kehebatanya sendiri, kalau kita tak bisa menghargai diri sendiri kita tak akan bisa menyemangati diri,” kata Fajar Tri Amboro kepada KRJOGJA.com Selasa (26/2/2019).

Ia pun berkisah, awalnya pingin kuliah di beberapa fakultas yang menurutnya saat itu hebat, tetapi tak diterima, justru diterima di usaha jasa perjalanan wisata. Selesai kuliah, kebetulan di Yogya sedang marak pembangunan perhotelan. Ia mencoba ikut-ikutan temanya bekerja di perhotelan. Meski awalnya belum klik dengan pekerjaan itu, lama kelamaan akhirnya mencintai pekerjaanya, dan bisa jadi jalan hidupnya.

Dari semula hanya magang, menjadi karyawan biasa hingga ke level general manajer, dilalui dengan penuh liku. “Saya akhirnya berfikir bekerja di hotel bisa menjadi jalan hidup saya. Bisa dapat duit, dan bisa mengaplikasikan ilmu juga,” jelas Fajar.

Menurut Fajar, orang hotel harus baik dan bisa berkomunikasi dengan siapapun, serta  selalu menampilkan sisi baik. Dengan demikian, akan memberikan suasana keceriaan bagi ke sekelilingnya.

Ia juga sangat menghargai kearifan lokal, termasuk menu makanan dan minuman. Ia memilih memajang deretan jenis kopi asli Indonesia, sebagai salah satu cara untuk bangga terhadap produk dalam negeri.

Kopi lokal yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia dinilai justru lebih hebat dibanding kopi dari mancanagera. Kopi Indonesia lebih memiliki beragam rasa.

Ngopi, saat ini sudah bukan lagi sekedar untuk menikmati minum, melainkan sudah menjadi gaya hidup. “Sejak awal suka ngopi, kopi apa saja. Dulu tahunya kopi itu ya yang sudah instan, ternyata bikin lambung perih. Saya punya sakit maag, tersiksa sekali selalu bawa obat maag. Mau makan ini itu ga bisa, minum kopi susah,  tapi saya malah nekad. Rugi hidup ga bisa ini itu, saya paksakan demi sedikit, akhirnya tubuh jadi imun, bisa beradaptasi dengan sendirinya,” jelasnya.

Sebagai orang hotel, ia terus berinovasi menyajikan menu dengan cara yang ekspresif, menggabungkan antara rasa dan seni (taste and art). Hal ini dilakukan karena dan minum tidak berhenti pada kepuasan menghilangkan dahaga dan menghilangkan rasa lapar. Pengamalan dalam proses makan dan minum itulah yang justru akan memberikan kesan dan kebahagiaan. (Sit)

BERITA REKOMENDASI