Gandeng FAO, Kementan Antisipasi Ulat Grayak Jagung

BOYOLALI, KRJOGJA.com – Kementerian Pertanian bersama Badan Pangan dan Pertanian PBB atau FAO bergerak cepat menanggulangi hama Fall Armyworm atau Ulat Grayak Jagung. Hama jagung yang berasal dari wilayah Amerika tersebut sudah menyapu di afrika dan di asia selatan sebelum terdeteksi menyebar di Indonesia pada Maret lalu. 

Dalam rilis yang diterima Kedaulatan Rakyat, Jumat (19/7), sejak terdeteksi di Sumatera Barat, dalam empat bulan saja, hama tersebut sudah menyebar di 12 provinsi di Pulau Sumatera, Jawa, dan sebagian wilayah Kalimantan. Hama ini mempunyai kemampuan bermigrasi ratusan km dan mampu merusak tanaman jagung hanya dalam waktu semalam saja. 

Sejak 2016 lalu, hama ini telah melanda Afrika dengan estimasi kerugian mencapai 1-3 miliar dollar amerika. Hama ini terus bergerak ke India, Bangladesh, Cina, Myanmar, Sri Lanka, Thailand sebelum tiba di Indonesia pada Maret lalu. Dalam kasus Sri Lanka, ada laporan  kerusakan sebanyak 20 persen dari lahan seluas 40 ribu hektar.

Direktur Perlindungan Tanaman Direktorat Perlindungan Tanaman di Kementerian Pertanian Edy Purnawan  sudah mengimbau seluruh wilayah di Indonesia untuk mewaspadai hama ini. Di lapangan, petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) sudah diturunkan untuk meningkatkan kesadaran petani untuk langkah pencegahan, minimal mengurangi dampak kerusakan.  "Kami mengantisipasi bahwa serangan Fall Armyworm akan menginfeksi pertanaman jagung di seluruh Indonesia dalam beberapa bulan mendatang," katanya dalam rilis. 

FAO sendiri telah mengadakan pertemuan dengan para pejabat dari berbagai negara, termasuk Indonesia, dan membawa para pakar yang telah menangani hama di Afrika dan Amerika Latin dan mempelajari cara-cara untuk membatasi kerusakannya.

"Pemerintah akan mengorganisir lokakarya nasional bekerjasama dengan FAO pada akhir Juli untuk menyepakati tindakan multipihak paling efektif untuk menanggapi serangan ini. Kami memanfaatkan pelajaran dari negara-negara lain ketika menanggapi serangan di negara mereka sendiri sebagai praktik terbaik untuk memperlambat penyebaran dan membatasi kerusakan" kata Stephen Rudgard, Perwakilan FAO di Indonesia.

Setelah serangan hama terverifikasi dengan baik, pemerintah akan memperkuat upaya untuk terus meningkatkan kesadaran dan memantau keberadaan dan penyebaran Fall Armyworm pada jagung dan tanaman lainnya.‎

FAO juga telah bekerja dengan otoritas terkait untuk memprakarsai program kesadaran yang menginformasikan dan melatih petani tentang teknik pengelolaan hama terpadu yang akan bermanfaat untuk mengendalikan Ulat Grayak Jagung, diantaranya cara mengidentifikasi musuh alami dari Fall Armyworm, meningkatkan kontrol biologis alami dan kontrol mekanis, seperti menghancurkan massa telur dan menggunakan penggunaan biopestisida.

Indonesia memiliki banyak musuh alami hama ini untuk mengurangi infestasi. Satu studi dari Ethiopia menemukan, satu parasit tawon telah membunuh hampir setengah dari populasi hama dalam waktu dua tahun sejak kedatangan Fall Armyworm di negara tersebut.

Penggunaan pestisida kimia perlu dipertimbangkan dengan sangat hati-hati, mengingat bahwa ulat hama terlindung dari semprotan karena mereka bersembunyi jauh di dalam dedaunan tanaman, dan juga pestisida semacam itu dapat memiliki efek negatif pada musuh alami dan kesehatan petani.

Jika langkah-langkah efektif diberlakukan, efek negatif dari Fall Armyworm dapat dikurangi dengan populasi dipertahankan pada level yang cukup rendah untuk membatasi kerusakan ekonomi dan mata pencaharian petani. (Gal)

BERITA REKOMENDASI