Ganjar Pranowo : Kaget Aku, Tak Kiro Opo

GUBERNUR Jawa Tengah Ganjar Pranowo terpukau menyaksikan Festival Ketoprak Pelajar (FKP) ke-10 tingkat Jawa Tengah yang digelar Amigo Grup, di aula SD Krista Gracia Klaten. Sidang dewan juri yang berlangsung hingga Senin (16/9) dinihari menetapkan SMA Negeri I Karanganyar sebagai juara I FKP tingkat SLTA 2019, dengan mementaskan lakon Nyi Ageng Karang. 

Disusul juara II SMK Negeri 2 Klaten dengan lakon Ngrungkepi Bumi Aji, dan juara III SMK Negeri 1 Sumber Rembang mementaskan Empu Paku Wojo. Dengan memasukan teknologi ke dalam panggung, pementasan FKP berhasil membuat kaget Gubernur, hingga benar-benar nampak terperanjat. Yakni saat tedengar suara letusan pada salah satu adegan cerita Huan Le Hoa yang ditampilkan oleh para siswa SMP Krista Gracia. “Tadi kaget aku, tak kiro opo…” kata Gubernur sembari tersenyum.

Ganjar Pranowo mengemukakan, pada pentas di tahun yang ke-10 ia kembali menyempatkan diri untuk hadir menyaksikan langsung kiprah seni para pelajar tersebut.

“Ini sebenarnya yang saya inginkan, ada kreasi tata panggung, lighting, sound yang bagus. Bayangkan mereka anak-anak SMP yang bisa membuat kreasi. Anak- anak muda melihat tontonan ini akan tertarik. Ada adegan bisa terbang, pakai video mapping, ada hidroliknya bisa naik. Tentu ini tidak akan didapat dari yang lebih senior yang biasanya menggunakan geber,” kata Gubernur.

Lebih lanjur Gubernur mengemukakan, jika dua hal tersebut digabungkan, jika yang senior juga menggunakan teknologi, maka tontonan ketoprak akan menjadi luar biasa. Kendati para pelajar tersebut bukan pemain profesional, mereka memeiliki visi aygn lebih maju. “Anak-anak ini bukan profesional, mereka amatir, tapi sebenarnya saya melihat ide, visi dari anak-anak ini lebih maju, karena memasukkan teknologi dalam permainan ketoprak dan tata panggunya,” jelas Gubernur pula.

Gubernur juga memuji ketoprak pelajar sudah luar biasa, baik tata panggung, lighting, hingga kostum para pemain dinilai sangat dahsyat, tinggal meningkatkan kemampuan dalam seni peran.

Ia tidak memaksakan daerah lain untuk sama seperti yang ditampilkan Klaten. Daerah lain bisa menampilkan sesuatu yang berbeda. Jika Klaten sudah 10 tahun punya ketoprak pelajar, mungkin daerah lain bisa menampilkan wayang, seni musik, pedalangan dan sebagainya. “Maka kita akan punya pertunjukan yang beragam, dan Jawa Tengah memang kaya.Optimis seni budaya ini akan hidup tak akan mati ,” jelas Gubernur pula. (Sit)

BERITA REKOMENDASI