Izin Usaha Diragukan, Warga Merapi Desak Penutupan ‘Stone Crusher’ di Bawukan

Dalam tuntutannya, warga menolak keberadaan usaha Stone Crusher tersebut karena berdampak merugikan bagi masyarakat sekitar. Usaha Stone Crusher harus pindah lokasi karena berada di pemukiman penduduk dan kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM).

“Poinnya kami mempermasalahkan izin usaha Stone Crusher itu. Sebab selama kami menguji izin usahanya itu maka sebenarnya harus off (berhenti) terlebih dahulu, karena masih proses. Namun justru beroperasi dan berdampak ke lingkungan sekitar. Sangat terganggu dengan suara dan debu,” ujarnya.

Devisi Litigasi Pusat Konsultasi dan Bantuan Hukum, Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Z. Arqom, mengatakan, usaha Stone Crusher di Dukuh Butuh, Desa Bawukan telah menyalahi prosedur. Sebab dari hasil audit menunjukkan assetnya mencapai Rp 1,49 miliar. Sedangkan wilayah tersebut merupakan pemukiman penduduk dan kawasan TNGM, bukan zona peruntukkan industri.

“Dalam permohonan izin usaha itu kan menyalahi. Sedangkan pemilik usaha Stone Crusher pernah membuat surat pernyataan kurang dari Rp 500 juta assetnya. Tapi setelah diperiksa ternyata lebih dari itu. Warga mempertanyakan kenapa usaha sebesar itu mendapatkan izin, apalagi berada di tengah-tengah warga,” ujarnya.

BERITA REKOMENDASI