Jadi Agenda Tahunan, Haul Ki Ageng Singoprono Diikuti Ribuan Warga

BOYOLALI, KRJOGJA.com – Haul atau peringatan meninggalnya Ki Ageng Singoprono, seorang tokoh penyebar Islam yang merupakan keturunan dari penguasa Majapahit, Raja Brawijaya V, yang digelar di makam beliau di Gunung Tugel, Desa Nglembu, Kecamatan Sambi, Minggu (10/9/2017), diikuti ribuan peziarah. Haul ini digelar untuk kedua kalinya dan akan digelar lagi secara rutin pada tahun-tahun mendatang untuk pelestarian tradisi.

Sebelum prosesi utama yang digelar di petilasan yang berada di puncak bukit, prosesi diawali dengan kirab dari kaki bukit, mengusung berbagai tumpeng dan beragam pusaka Keraton Kasunanan Surakarta yang dibawa oleh sentana dalem keraton. Di belakang rombongan kirab, ribuan peziarah mengikuti prosesi dengan khidmat. Sesampainya di area malam, digelar pengajian dan doa bersama yang dilakukan dengan khusyuk.

Salah satu panitia Haul Ki Ageng Singoprono, KRT Surojo Adi Nagoro menjelaskan, haul kali ini baru dua kali diselenggarakan. Adanya semangat menyelenggarakan haul dilandasi untuk mengenang dan melestarikan perjungan Ki Ageng Singoprono yang babat alas dalam menyebarkan agama islam, khususnya di wilayah Boyolali dan sekitarnya.
Dalam masa penyebaran agama Islam tersebut, Ki Ageng Singoprono menjabat sebagai Demang Singowalen, sebuah wilayah yang saat ini berada di wilayah Kecamatan Simo. "Kita ingin semangat dan perjuangan beliau dalam penyebaran agama diingat dan dilestarikan oleh generasi sekarang," katanya.

Darmaji, pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Qur’an, Desa Teter, Kecamatan Simo menambahkan, dalam peringatan haul kali ini, ia mengajak serta ratusan santrinya untuk mengenal lebih dekat tokoh yang menyebarkan islam di wilayah Boyolali, khususnya di wilayah Simo dan sekitarnya. Terlebih ponpes yang ia asuh mempunyai kedekatan sejarah dan batin, dimana pengasuh ponpes masih keturunan Ki Ageng Singoprono.

Widodo (25), salah satu peziarah asal Desa Canden, Kecamatan Sambi berharap, peringatan dengan kirab dan proses lain ini bisa terus digelar secara rutin. Menurutnya, kegiatan ini sangat penting, terutama untuk menandai titik dimana Islam disebarkan di wilayah Simo dan sekitarnya. Adanya prosesi tradisi dalam haul juga punya arti positif untuk tetap melestarikan budaya turun temurun yang saat ini mulai terlupakan oleh generasi yang lebih muda. "Haul ini juga menjadi penanda bahwa kita harus melanjutkan perjuangan beliau," tandasnya. (Gal)

BERITA REKOMENDASI