Jangan Percaya Isu, Petani Diminta Tanam Padi Tunggu Hujan

SUKOHARJO, KRJOGJA.com – Petani diminta untuk tidak memaksakan diri tanam padi untuk menghindari kerugian. Kondisi tersebut dipicu karena sekarang masih kemarau dan penutupan pintu saluran air Dam Colo Nguter pada 15 September mendatang. Proses tanam padi baru boleh dilakukan petani saat musim hujan datang diperkirakan pada Oktober-November mendatang. 

Ketua Paguyuban Petani Pengguna Air (P3A) Dam Colo Timur, Jigong Sarjanto, Minggu (25/8/2019) mengatakan, petani sudah diminta untuk tidak melakukan tanam padi sekarang. Proses persiapan tanam baru boleh dilakukan paling cepat setelah 15 Oktober mendatang. Waktu tersebut dipilih karena menunggu dibukanya kembali pintu saluran air Dam Colo, Nguter setelah dilakukan penutupan selama satu bulan. Penutupan dilakukan Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) selaku pengelola pada 15 September mendatang. 

P3A Dam ColO Timur sudah memberikan arahan pada semua pengurus dan anggota termasuk petani lainnya untuk tidak tanam padi. Sebab kondisi sekarang terjadi kekeringan disemua wilayah dampak dari kemarau panjang. Pasokan air semakin tidak ada setelah dilakukan pintu air Dam Colo, Nguter sebagai sumber baku utama mengiri sawah. 

“Baik dari P3A Dam Colo Timur maupun dinas sudah meminta petani tidak tanam padi sekarang akibat kemarau. Kalaupun mau menanam maka pilih tanaman non padi tapi palawija minimal jagung,” ujarnya. 

Petani diminta untuk bersabar menunggu musim hujan datang untuk melakukan proses tanam padi. Kondisi sekarang dimanfaatkan petani untuk mengistirahatkan sawah apabila tidak melakukan penanaman tanaman palawija. 

“Petani kami minta tidak memaksakan diri dan terpancing menanam padi. Minimal satu dua bulan terhitung Agustus-September kedepan sawah diistirahatkan dan selanjutnya pada Oktober-November petani kami minta untuk melakukan tanam serentak padi,” lanjutnya. 

Sementara itu selama masa penutupan pintu saluran air Dam Colo, Nguter pengurus dan anggota P3A Dam Colo Timur akan melakukan pemantauan. Sebab selama satu bulan pihak BBWSBS akan merawat sumber tampungan air bagi petani. Salah satu yang disorot berkaitan dengan kondisi Dam Colo dan pintu saluran air tersebar disejumlah wilayah. 

“Dibeberapa titik saluran kami berencana juga akan melakukan kerja bakti bersama khususnya soal pembersihan. Tujuannya saat hujan turun air bisa dialirkan lancar tanpa ada sumbatan sampat atau sedimentasi,” lanjutnya. 

Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo Netty Harjianti mengatakan, penutupan pintu saluran air Dam Colo, Nguter dilakukan 15 September mendatang. Kondisi tersebut memang mengejutkan namun tetap harus dilakukan salah satu pertimbanganya yakni keterbatasan stok air. Majunya jadwal penutupan secara otomatis merubah waktu saat kembali dibuka. Para petani diharapkan bisa melakukan adaptasi atas perubahan tersebut. 

“Petani jelas pada posisi sekarang kami minta tidak memaksanakan diri tanam padi karena kondisi kering akibat kemarau. Sedangkan nanti setelah pintu air Dam Colo, Nguter dibuka maka petani dipersilahkan melakukan persiapan tanam. Sedangkan saat musim hujan turun maka kami wajibkan petani langsung tanam serentak,” ujarnya. 

Tanam serentak diwajibkan agar kebutuhan air petani untuk mengiri sawah terjamin setelah hujan turun. Selain itu juga mempermudah siklus tidak hanya saat tanam namun juga waktu panen padi. “Tanam serentak juga membantu memutus perkembangbiakan hama seperti tikus,” lanjutnya. (Mam)

BERITA REKOMENDASI