Jemur Tembakau, Petani Manfaatkan ‎Proyek Tol

Editor: KRjogja/Gus

BOYOLALI (KRjogja.com) – Petani tembakau di lereng Merapi berburu sinar matahari hingga ke ruas jalan proyek tol Solo – Semarang di Desa Denggungan, Kecamatan Banyudono, untuk menjemur tembakau hasil penan mereka. 

Didik Setiawan (27), salah satu petani asal Cepogo , Kamis (31/8) kemarin menjelaskan, ia dan petani lainnya berburu panas matahari di wilayah bawah agar proses pengeringan bisa lebih cepat. Sebab intensitas sinar matahari lebih banyak dibanding di Cepogo yang berada di kaki Merapi. Selain itu, menurutnya penjemuran di atas cor beton bisa membuat proses pengeringan bisa sempurnan sebab permukaan tol lebih panas dibanding di atas permukaan tanah.

Di ruas tol tersebut, ‎sambungnya, tembakau bisa kering hanya dalam satu kali proses penjemuran saja. "Di sini paling hanya butuh waktu lima jam saja untuk pengeringan," terangnya. 

Dijelaskan lebih jauh, proses pengeringan ini cukup vital dalam menjaga kualitas tembakau agar harga jual tetap terjaga. Tembakau pasca panen yang tak segera dikeringkan bisa membusuk. Harga jualnya pun ikut turun. Saat ini di tingkat petani, tembakau kering‎ dihargai Rp65 ribu/kg. Sementara tembakau yang rusak, bisa karena membusuk atau proses pengeringan tak sempurna, paling-paling hanya dihargai Rp25 ribu/kg. 

Usai proses pengeringan, tembakau hasil panenan di wilayah Boyolali akan dijual ke gudang tembakau di wilayah Temanggung dan Magelang.

Petani lainnya, Solikin menegaskan hal serupa. Meski mesti keluar biaya tambahan untuk mengangkut tembakau, sekitar satu jam perjalanan dari rumahnya, ia tak keberatan demi menjamin kualitas tembakau tetap terjaga. Sebab bila mengandalkan intensitas sinar matahari di lereng gunung‎ yang tak jarang tertutup kabut, kualitas tembakau bisa turun. "Dibanding tahun lalu, hasil panenan tembakau tahun ini lebih bagus karena cuaca mendukung. Jadi sayang kalau rusak karena proses pengeringan," tandasnya. (Gal)

BERITA REKOMENDASI