Kades Kuliah di Unwidha dapat Keringanan Rp 1 Juta Per Semester  

Editor: Ary B Prass

KLATEN, KRJOGJA.com – Para kepala desa/perangkat desa yang akan kuliah di Universitas Widya Dharma (Unwidha) Klaten akan mendapat keringanan biaya kuliah sebesar Rp 1 juta per semester, selama delapan semester.

Hal itu dikemukakan Rektor Unwidha Prof. Dr. H Triyono MPd, di sela rapat kerja bersama Yayasan Pendidikan Indonesia (YPI) Klaten, di aula rektorat, Senin (21/2/2022).  “Silahkan para kepala desa yang akan kuliah di Unwidha. Ada dua keringanan yang akan diberikan. Yakni keringanan biaya kuliah dan ada RPL,” jelas Rektor.

Lebih lanjut Rektor menjelaskan, Unwidha menerapkan program RPL (Rrekognisi Pengalaman masa Lampausejak 2021. Seseorang yang melanjutkan kuliah di Unwidha akan diperhitungkan dengan pengalaman-pengalaman masa lampaunya, untuk mengurangi beban SKS. “Misal perangkat desa lulusan SMA tapi sudah punya pengalaman 20 tahun, tidak disamakan dengan mahasiswa yang baru lulus SMA kemarin. Perangkat desa ini, tak harus menyelesaikan 8 semester selama 4 tahun,” kata rektor.

Menurut Rektor, yang menjadi prioritas saat ini antara lain bidang kemahasiswaan, khususnya dalam penerimaan mahasiswa baru. Selain itu juga sumberdaya manusia, dalam hal ini adalah dosen. Secara kualifikasi akademik atau syarat pendidikan sudah terpenuhi. Bahkan, sebanyak 95 orang dari 121 dosen Unwidha sudah tersertifikasi. “Namun, hal itu belum cukup. Untuk jabatan fungsional dosen harus ditingkatkan,” tambah rektor.

Ketua Yayasan Pendidikan Indonesia Klaten, Dr H Basuki MM mengemukakan,  rapat kerja antara Yayasan Pendidikan Indonesia Klaten dan Unwidha tersebut dilakukan, agar ada keselarasan antara kebijakan yang telah ditetapkan oleh yayasan dengan pelaksanaanya di universitas.

Dengan adanya Raker, diharapkan  bisa menghasilkan pedoman kerja yang bisa digunakan oleh masing-masing pimpinan struktural mulai dari Warek, hingga kepala pusat atau  ketua program studi. Rapat kerja yang biasanya dua hari, karena masa pandemi, hanya dilaksanakan sehari.

”Membahas program kerja masing-msing. Jangan sampai jadi pimpinan struktural entah tingkat manapun, datang ke kantor tidak ada semacam agenda pekerjaan yang akan dilakukan. Dengan adanya program kerja itu akan jadi penuntun langkah kerja tiap harinya,” kata Dr H Basuki.

Lebih lanjut Dr H Basuki mengemukakan, kepemimpinan Prof Triyono tinggal sekitar satu tahun, sehingga perlu ditekankajn adanya skala prioritas. Antara lain penerimanaan mahasiswa baru, kenaikan jabatan fungsional akademik dosen, dan peningkatan publikasi ilmiah. “Publikasi ilmiah ini menjadi kunci utama agar dosen bisa dengan mudah naik pangkat harus punya banyak publikasi,” jelas Dr H Basuki. (Sit)

 

BERITA REKOMENDASI