Kampung Halaman Jokowi Jadi Proyek Percontohan Digitalisasi Warung Tradisional

BOYOLALI, KRJOGJA.com – Desa Giriroto, Kecamatan Ngemplak, yang merupakan kampung halaman Presiden Joko Widodo, menjadi pilot project untuk program digitalisasi warung tradisional agar mereka bisa bersaing dengan ritel modern. Program ini merupakan upaya memangkas ketimpangan antara ekonomi desa dan kota serta untuk menekan angka kemiskinan.  

Di Desa Giriroto saat ini, sudah ada 10 warung yang sudah merealisasikan program tersebut. Dimana konsepnya, selain penguatan permodalan melalui perbankan serta peningkatan produk, toko tradisional tersebut juga menjalin kemitraan dengan perusahaan ritel modern, yakni Hypermart, sebagai pemasok barang dengan harga kompetitif. Warung juga akan dilengkapi dengan peralatan atau aplikasi digital untuk memantau proses pengadaan, pembayaran, dan penjualan barang. Dengan kata lain, program ini mendorong toko atau warung tradisioal dengan manajemen yang lebih modern berbasis teknologi informasi.  

Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita, dalam peluncuran program tersebut, Selasa (6/3/2018) menjelaskan, program ini merupakan salah satu realisasi perintah Presiden Joko Widodo untuk ekonomi kerakyatan, dimana ada keseimbangan ekonomi antara desa yang menjadi habitat toko tradisional dan perkotaaan yang didominasi toko modern. Caranya, yakni dengan mengubah konsep warung tradisional dengan konsep yang lebih modern, diantaranya dengan digitalisasi, agar mereka bisa kompetitif. "Tak bisa 100 persen, tapi harus mulai dicoba," kata Enggar.  

Bila modernisasi tak segera dilakukan, sebutnya, ekonomi desa bisa makin tertinggal dengan kota. Sehingga bantuan permodalan dan peningkatan manajemen ini diharapkan bisa memangkas ketimpangan. "Ini masalah waktu saja. Ekonomi desa sudah tertinggal. Apalagi kota saat ini sudah digital, mereka bisa ketinggalan lagi," lanjutnya.

Pengembangan warung tradisional dengan manajemen yang modern mendesak dilakukan agar lebih kompetitif bersaing dengan ritel modern. Diakuinya, keberadaan toko atau ritel modern membuat warung tradisional makin tersisih. Namun untuk menghentikan laju perkembangan ritel modern pun sulit dilakukan, terlebih industri ritel tersebut sudah mampu menyerap sebanyak 400 ribu tenaga kerja. "Pasar ritel modern adalah keniscayaan, tak bisa dihindari," jelasnya.

Kedepan, ia akan mengembangkan program serupa yang lebih massif dengan harapan program ini bisa mempunyai andil yang besar dalam memberantas kemiskinan. (Gal)

 

BERITA REKOMENDASI