Kapolres Sukoharjo Minta Maaf Kasus Viral Tilang Petani di Persawahan

Editor: Ivan Aditya

SUKOHARJO, KRJOGJA.com – Polres Sukoharjo menyampaikan permohonan maaf atas kasus penilangan Electronic Traffic Law Enforcement (E-TLE) yang terjadi pada salah satu warga yang mengendarai sepeda motor tanpa helm di wilayah persawahan. Kejadian tersebut menimbulkan polemik di masyarakat dan viral di media sosial. Kapolres Sukoharjo AKBP Wahyu Nugroho Setyawan mengucapkan terimakasih atas kritik dan saran yang telah diberikan masyarakat.

Wahyu Nugroho Setyawan, Kamis (23/06/2022) mengatakan, dalam beberapa hari terakhir media sosial dihebohkan dengan sebuah kabar penilangan kepada seorang pengendara sepeda motor di wilayah persawahan. Penilangan tersebut diperkuat dengan adanya foto surat konfirmasi ETLE.

Kapolres menjelaskan, terkait bagaimana penilangan bisa terjadi, jika yang bersangkutan tertangkap melakukan pelanggaran melalui ETLE Mobile, bukan dari ETLE yang biasanya terpasang di ruas jalur protokol. Petugas mendapati pengendara sepeda motor tersebut melintas di wilayah persawahan tanpa menggunakan helm.

“Jadi bukan kamera ETLE nya diletakkan di persawahan. Tapi memang anggota kita diberi aplikasi khusus di handphonenya untuk memantau pelanggaran sambil berpatroli. Itulah yang namanya ETLE Mobile,” ujarnya.

Kapolres melanjutkan, orang yang ditilang tersebut memang berprofesi sebagai petani. Namun pada saat kejadian penindakan penilangan tidak dalam kapasitas sebagai petani atau dari sawah melainkan pulang dari takziah. Hal ini berdasarkan pakaian batik yang dikenakan dan keterangan orang tersebut saat dikonfirmasi polisi.

“Yang bersangkutan sepulang takziah dengan mengendarai sepeda motor tanpa menggunakan helm melintasi wilayah perasaan dan mau menengok pekerjanya yang sedang tanam padi di sawah,” lanjutnya.

Ia menambahkan, bahwa yang bersangkutan atau orang yang tertilang sudah menemui petugas Satlantas Polres Sukoharjo, untuk mengakui pelanggaran yang telah dilakukannya dan membayar denda tilang melalui sistem BRIVA yang telah ditentukan. “Sudah dikonfirmasi. Yang bersangkutan juga mengakui kesalahannya. Ia mengaku waktu tertangkap ETLE itu sedang kembali dari takziah,” lanjutnya.

Sementara itu, Kapolres menyampaikan bahwa tingginya data fatalitas akibat kecelakaan di Sukoharjo, menjadi alasan penindakan pelanggaran lalu lintas perlu ditingkatkan. Selain itu tidak ada Undang-Undang yang mengatur bahwa pengendara bermotor boleh tidak menggunakan helm di ruas jalan tertentu.

Secara yuridis dijelaskan, bahwa Pasal 291 ayat 2 merupakan aturan yang merujuk pada kedisiplinan setiap pengendara motor dalam menggunakan alat keselamatan saat berkendara. Jika ada penumpang yang melanggar aturan ini, tentu saja bisa kena tilang bahkan ditindak pidana sesuai pasal yang berlaku.

Hal tersebut sudah tertuang dalam UU No.22 tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, yang menyebut bagi pengendara yang tidak sesuai aturan alias melanggar bisa kena denda hingga kurungan.

Panto Suwarno (59) warga Ngawen, Sidowarno, Wonosari, Klaten di hadapan Kapolres di Polres Sukoharjo mengaku kaget mendapat kabar dari anaknya mendapat surat tilang. “Kaget dapat surat tilang. Tapi saya sudah membayar denda karena tidak memakai helm saat mengendarai sepeda motor,” ujarnya.

Panto Suwarno mengakui kesalahan dihadapan Kapolres Sukoharjo AKBP Wahyu Nugroho Setyawan tidak memakai helm saat mengendarai sepeda motor di wilayah persawahan sepulang dari takziah. Panto Suwarno mengaku saat itu akan menengok pekerjanya saat tanam padi di sawah.

Permintaan perpanjangan SIM dari Panto Suwarno langsung dipenuhi Kapolres Sukoharjo AKBP Wahyu Nugroho Setyawan. Petugas Satlantas Polres Sukoharjo sudah membantu membuatkan SIM dan helm kepada Panto Suwarno. (Mam)

BERITA REKOMENDASI