Kasus Suami Bunuh Istri, Olah TKP Ungkap Sandiwara Pelaku

Editor: KRjogja/Gus

BOYOLALI, KRJOGJA.com – Disaksikan ratusan warga, sebanyak 34 adegan diperagakan oleh Handoko (36), saat reka ulang penganiayaan terhadap istrinya, Novi Septiyani (22), di rumah mereka di Dukuh Gumuk Rejo, Desa Kebon Gulo, Kecamatan Musuk, Jumat (19/10). Kasus tersebut terkuak setelah makam korban dibongkar untuk diotopsi.

Satu per satu adegan diperagakan, mulai dari tersangka yang pulang dari tempat hiburan malam dalam kondisi mabuk, adu mulut dengan korban, pencekikan setelah blantik sapi tersebut tak terima korban menelpon dan menghardik salah seorang teman wanitanya, seorang pemandu lagu tempat hiburan malam. Diperagakan pula rasa penyesalan dengan tangisan dan ciuman perpisahan tersangka di pipi korban sebelum ia berpura-pura di depan saksi tak mengetahui penyebab kematiannya.

Kapolres Boyolali, AKBP Aries Andhi, melalui Kasatreskrim AKP Willy Budiyanto menjelaskan, reka ulang dilakukan untuk mencocokkan keterangan tersangka, saksi, serta barang bukti. Dari hasil otopsi pada jenazah korban yang digali dari makamnya pada Minggu (7/10) lalu, dipastikan penyebab kematian korban sesuai dengan keterangan tersangka, yakni kehabisan nafas karena dicekik.

"Pelaku mencekik leher dan dipepetkan ke tembok sekitar lima menit sehingga kehabisan nafas. Hal itu sesuai sesuai hasil forensik," jelasnya.

Atas kesesuaian tersebut, tersangka tak dapat mengelak, meski dalam pengakuannya, sambung Willy, tersangka tak mencekik sampai korban meninggal.
Diketahui setelah peristiwa pencekikan sekitar jam 11 malam, tersangka langsung tidur, meninggalkan korban yang tergeletak di ruang tamu. Sekitar jam tiga pagi saat terbangun, korban mengecek kondisi korban masih tergeletak di tempat semula dan menyadari ia sudah meninggal. Untuk mengelabui perbuatannya, ia mengabarkan pada keluarga dan masyarakat jika korban meninggal mendadak tanpa diketahui penyebabnya. Korban langsung dikuburkan pada pagi itu juga.

Segera setelah pemberkasan selesai, kasus akan dilimpahkan ke Kejaksaaan untuk selanjutnya dibawa ke Pengadilan. "Akan dijerat dengan pasal berlapis, diantaranya UU Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) Pasal 44 Ayat 3 Tahun 2014,"

Kasus tersebut berhasil dibongkar, setelah polisi mengembangkan desas-desus di masyarakat, jika kematian korban pada tanggal 1 Oktober dinihari lalu tak wajar. Meski pihak keluarga menerima, namun saat prosesi memandikan jenazah, ada warga yang curiga karena ada tanda-tanda kekerasan di tubuh korban. Selang beberapa hari, polisi lalu memutuskan membongkar makam untuk proses otopsi. (Gal)

BERITA REKOMENDASI