Kebutuhan Sumur Dalam Tinggi Bagi Petani

Editor: Ivan Aditya

SUKOHARJO, KRJOGJA.com – Setiap kecamatan di Kabupaten Sukoharjo idealnya memiliki satu hingga dua sumur dalam sebagai bagian penyediaan sumber air pertanian. Keberadaan sumur dalam menjadi jaminan bagi petani mengembangkan tanaman pangan khususnya padi dan palawija sehingga bisa terus panen meski kondisi cuaca kemarau. Hasil panen membuat tingkat kesejahteraan petani meningkat sekaligus menambah stok cadangan pangan daerah.

Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo Netty Harjianti mengatakan keberadaan sumur dalam dikatakan Netty sangat penting untuk menunjang sektor pertanian. Meski sudah ada sumber air pertanian dari Dam Colo di Kecamatan Nguter namun tidak semua kecamatan dapat teraliri air. Karena itu sumber air bisa didapat petani dari sumur dalam.

“Di wilayah Kecamatan Baki dan Kartasura misalnya. Disana sektor pertanian masih bisa digarap dengan menyediakan sumur dalam. Petani saat kemarau bisa mendapat air dari sumur dalam. Sama halnya seperti di Desa Rejosari, Kecamatan Polokarto,” kata Netty di Sukoharjo, Selasa (16/03/2021).

Ia mengatakan, Kabupaten Sukoharjo yang merupakan salah satu daerah pertanian yang diandalkan oleh pemerintah berupa hasil panen beras membutuhkan jaminan sumber air untuk mengairi lahan pertanian. Panen yang didapat tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan lokal saja namun juga nasional.

Sumber air yang dipakai petani di Sukoharjo seperti Dam Colo Nguter, Waduk Mulur dan Sungai Bengawan Solo. Keberadaanya sudah mampu memenuhi kebutuhan air untuk mengairi tanaman padi di sawah. Meski demikian pada momen tertentu seperti saat kemarau panjang kebutuhan air yang meningkat harus dicarikan solusi dengan mencari sumber baru.

Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo kemudian mengembangkan sejumlah sumur dalam dibeberapa wilayah. Sumur dalam dibangun untuk memenuhi kebutuhan air petani di wilayah tersebut.

“Dam Colo Nguter, Waduk Mulur dan Sungai Bengawan Solo mampu memenuhi kebutuhan air petani untuk tanam padi. Tapi saat kemarau panjang maka perlu dicarikan solusi berupa sumur dalam yang dibangun pemerintah. Petani secara mandiri juga membutat sumur pantek,” lanjutnya.

“Pembangunan sumur dalam selama ini dibiayai pemerintah pusat bersumber Dana Alokasi Khusus (DAK) maupun APBD dan sudah terlaksana dibeberapa wilayah di Sukoharjo. Tapi pembangunan sumur dalam juga bisa diambilkan melalui dana desa,” lanjutnya.

Khusus dana desa, Netty menjelaskan, pemerintah desa bisa menggunakannya untuk membangun sumur dalam. Pembangunan dimaksudkan untuk memberdayakan petani agar bisa terus menanam padi.

“Beberapa wilayah yang sudah memiliki sumur dalam seperti di Kecamatan Weru, Bendosari, Nguter dan Mojolaban. Satu kecamatan jumlah sumur dalam yang dimiliki bervariasi seperti satu dan dua titik,” lanjutnya. (Mam)

BERITA REKOMENDASI