Kehabisan Bekal Jadi Modus PGOT

Editor: KRjogja/Gus

KLATEN, KRJOGJA.com – Kehabisan bekal dan terlantar sering dijadikan alasan atau modus oleh para pengemis, gelandangan dan orang terlantar (PGOT) yang terjaring razia kepolisian.

Kasat Binmas Polres Klaten AKP Nurwadi, dalam workshop penanggulangan pengemis gelandangan dan orang terlantar (PGOT) di aula makam pahlawan Ratna Bantala Kabupaten Klaten, Kamis (11/10) memaparkan, sebenarnya Polri dan Pemkab sudah maksimal dalam penanggulangan. PGOT tersebut tidak hanya berasal dari Klaten saja, melainkan juga dari Luar Klaten. “Yang paling sering adalah orang kehabisan bekal atau terlantar. Disini kami menemui masalah, yaitu seringnya kehabisan bekal ini dijadikan modus penipuan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab" kata AKP Nurwadi.

Menurut Nurwadi, Polres Klaten selama bulan Juli – Agustus, melaksanakan Operasi Kepolisian dengan Sandi “Ops Bina Kusuma Candi 2018”, dengan sasaran premanisme termasuk PGOT tersebut. "Dari 30 hari pelaksanaan, kami banyak merazia anak-anak jalanan dan kami serahkan ke Dinsos untuk diberikan pelatihan. “ jelas AKP H. Nurwadi pula.

Workshop yang dihadiri 90 Peserta ini melibatkan berbagai elemen. Antara lain, Satpol PP , Dinsos P3AKB, RS Soeradji Tirtonegoro, RS. Bagas Waras, RS. Soedjarwadi, Kanit Binmas Polsek jajaran Polres Klaten, TKSK, Pengurus Rumah Singgah, dan dari BPJS Klaten.

Acara tersebut menekankan bahwa masalah PMKS (penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial) sampai saat ini masih menjadi masalah krusial di Kabupaten Klaten maupun di kabupaten Lain.

“Saya yakin, masalah PGOT ini tidak hanya di Kabupaten Klaten, namun di semua Kabupaten juga memiliki masalah yang sama. Ini tugas kita bersama. Dari Kepolisian dan Satpol PP sudah sangat aktif dalam merazia PGOT ini, namun kami juga terkendala dalam pembinaannya. Mereka (PGOT-Red) selalu kabur ketika kita ikutkan pelatihan” ujar Dewi, dari Dinas Sosial Kabupaten Klaten saat menjadi pemateri di Workshop tersebut. (Sit)

 

BERITA REKOMENDASI