Kejari Sukoharjo Tangkap Terpidana Korupsi Buku Ajar

Editor: Ivan Aditya

SUKOHARJO, KRJOGJA.com – Buron terpidana kasus korupsi pengadaan buku ajar tahun 2003/2004 senilai Rp 3,8 miliar Murad Irawan berhasil ditangkap petugas Kejaksaan Negeri (Kejari) Sukoharjo. Penangkapan dilakukan disalah satu hotel di wilayah Kota Solo setelah selama 11 tahun atau sejak 2008 Murad Irawan ditetapkan sebagai buronan. Usai ditangkap Murad Irawan langsung dieksekusi dijebloskan ke sel tahanan di Rutan/LP Surakarta.

Kepala Kejari Sukoharjo, Tatang Agus Volleyantono saat memberikan keterangan di aula kantor Kejari Sukoharjo, Rabu (04/12/2019) mengatakan, Murad Irawan ditangkap pada Selasa (03/12/2019) sore disebuah hotel di wilayah Kota Solo. Penangkapan bermula setelah Kejari Sukoharjo mendapat informasi keberadaan jejak buron terpidana kasus korupsi buku ajar sedang menginap disebuah hotel di wilayah Kota Solo.

Informasi tersebut langsung ditindaklanjuti Kejari Sukoharjo untuk melakukan penangkapan. Kajari mengaku langsung memerintahkan dua anggotanya yakni Kasi Pidsus dan Kasi Intel untuk mengecek informasi dengan mendatangi hotel tempat Murad Irawan menginap. Awalnya petugas sempat dibuat binggung karena ada dua hotel disalah satu jalan di wilayah Kota Solo sesuai informasi yang diterima Kejari Sukoharjo.

Petugas yang datang akhirnya melakukan pengecekan satu per satu. Usaha tersebut berhasil dan menemukan Murad Irawan berada disalah satu kamar hotel.

Kejari Sukoharjo dalam melakukan penangkapan terpidana korupsi buku ajar Murad Irawan telah berkoordinasi dengan Polresta Surakarta. Saat dilakukan penangkapan di dalam kamar Murad Irawan tidak memberikan perlawanan dan langsung menyerah dihadapan petugas. Murad Irawan kemudian dibawa untuk dilakukan pemeriksaan dan langsung dijebloskan ke sel tahanan di Rutan/LP Surakarta.

"Terpidana kasus korupsi buku ajar yang merupakan buronan Murad Irawan berhasil ditangkap Kejari Sukoharjo dan tentunya dengan melibatkan petugas terkait lainnya. Murad Irawan ini tidak hanya buronan di Sukoharjo saja namun juga sejumlah daerah lain seperti di Yogyakarta," ujarnya.

Kejari Sukoharjo melakukan penangkapan dan eksekusi terhadap Murad Irawan berdasarkan sidang vonis yang digelar oleh Pengadilan Negeri (PN) Sukoharjo secara in absentia atau tanpa dihadiri terdakwa pada 23 Februari 2009. Murad Irawan divonis hukuman penjara delapan tahun penjara. Sejak vonis tersebut, Murad masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) atau buron.

Vonis majelis hakim PN Sukoharjo juga menjatuhkan hukuman denda Rp 200 juta subsidair enam bulan kurungan serta membayar uang pengganti Rp 3.825.484.427. Vonis PN Sukoharjo Nomor 130/PID.B/2008/PN.SKH tertanggal 13 Februari 2009 tersebut telah memiliki kekuatan hukum tetap.

Dalam kasus korupsi buku ajar di Sukoharjo, Murad Irawan merupakan Direktur Utama PT Putra Insan Pramudita. Pengadaan buku ajar sendiri dilakukan di sekolah tingkat SMK tahun 2003/2004 lalu. Kasus tersebut kemudian mengemuka tahun 2006 dan berproses hukum pada tahun 2008. Sidang pengadilan hingga vonis digelar tahun 2009.

Kasi Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Sukoharjo, Yudhi Teguh Santoso mengatakan, setelah Kejari Sukoharjo melakukan penangkapan maka sudah tidak ada lagi proses hukum. Murad Irawan langsung dieksekusi untuk menjalani masa hukuman penjara di Rutan/LP Surakarta sesuai dengan vonis PN Sukoharjo.

Sesuai berkas kasus, Murad Irawan sendiri beralamat di Jalan Swadaya Raya No 12 RT 003/001, Duren Sawit, Jakarta Timur. Dalam kasus buku ajar Murad Irawan mengaku sebagai orang atau pimpinan PT Balai Pustaka.

Padahal Murad Irawan sama sekali tidak terkait dengan PT Balai Pustaka. Selain Sukoharjo ada sejumlah daerah yang juga terdapat kasus yang sama. Namun, baru Sukoharjo yang diproses hukum hingga persidangan. Selama penangkapan sendiri, Murad Irawan kooperatif dan tidak melakukan perlawanan.

"Selama ini terpidana Murad Irawan sering menggunakan identitas lain seperti Iwan Suwadana dan lainnya untuk menghilangkan jejak. Saat ditangkap, yang bersangkutan mengaku tengah ada urusan pekerjaan bisnis properti di Solo," lanjutnya. (Mam)

BERITA REKOMENDASI