Kemarau Mulai Dirasakan, Kebutuhan Air Pertanian Diperhitungkan

SUKOHARJO, KRJOGJA.com – Kebutuhan air untuk memenuhi pertanian mulai diperhitungkan seiring datangnya musim kemarau. Petani sangat membutuhkan jaminan pasokan air mengingat tingginya kebutuhan seiring peningkatan target produksi panen tanaman pangan ditengah ancaman krisis pangan dunia.

Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo Bagas Windaryatno, Senin (1/8/2022) mengatakan, beberapa wilayah pertanian di Kabupaten Sukoharjo sudah sejak beberapa pekan sudah tidak turun hujan. Hal ini menandakan sudah masuk musim kemarau mengingat cuaca sangat panas.

Peralihan musim kemarau membuat Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo mulai melakukan perhitungan kebutuhan air untuk sektor pertanian. Pada awal musim kemarau kebutuhan air dipastikan masih terpenuhi. Sumber air yang diandalkan salah satunya dari Dam Colo Nguter.

“Kami melakukan perhitungan kebutuhan air untuk pertanian mengingat cuaca sangat panas dan beberapa pekan tidak hujan. Kebutuhan masih aman dan kalaupun ada wilayah kekurangan air maka kami sudah siapkan mesin pompa air,” ujarnya.

Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo memprioritaskan pemenuhan kebutuhan air pada sektor pertanian tanaman padi program IP 400. Prioritas dilakukan mengingat petani melakukan empat kali tanam padi dan empat kali panen padi. Kebutuhan air sangat tinggi sejak awal tanam hingga panen dan tanam kembali padi.

Program IP 400 menggunakan lahan seluas 10.000 hektar memerlukan jaminan terpenuhinya kebutuhan air. Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo sudah berkoordinasi dengan paguyuban petani dan kelompok tani terkait pembagian air dari Dan Colo Nguter.

“Kebutuhan air cukup. Posisi sekarang sudah di pertengahan tahun dan kalaupun kemarau hanya beberapa bulan kedepan saja hingga musim hujan datang lagi,” lanjutnya.

Bagas menjelaskan, kebutuhan air juga harus terpenuhi untuk lahan pertanian lainnya seperti sawah tanaman padi non program IP 400, palawija, dan buah. Sektor pertanian terus digenjot angka produktivitasnya untuk menambah stok pangan daerah ditengah ancaman krisis pangan dunia.

Pemantauan secara khusus dilakukan di wilayah selatan Kabupaten Sukoharjo meliputi Kecamatan Tawangsari, Weru dan Bulu. Ketiga kecamatan tersebut merupakan wilayah kering yang sering kekurangan air saat musim kemarau datang. Hal ini dikhawatirkan akan mengganggu produktivitas pertanian mengingat sektor pertanian disana, dikatakan Bagas sangat diandalkan.

Petani sudah mendapatkan pendampingan dengan menerapkan sistem hemat air serta tanam menyesuaikan kondisi cuaca. Sawah non program IP 400 disaat musim kemarau bisa menanam tanaman non padi seperti kedelai dan palawija. Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo bahkan menemukan ada petani yang menanam buah.

“Kedelai, jagung, kacang tanah, ketela, singkong dan beberapa buah terus dikembangkan. Tanaman pangan ini semakin gencar ditanam petani dan terus kami dampingi dengan pemanfaatan lahan yang ada,” lanjutnya.

BERITA REKOMENDASI