Kemarau Panjang, BBWSBS Sebut Debit Air Dam Colo Terus Berkurang

SUKOHARJO, KRJOGJA.com – Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) menyebut berkurangnya debit air di Dam Colo, Nguter, Sukoharjo bukan karena salah perhitungan pola operasi namun lebih disebabkan dampak kemarau panjang. Kondisi sama juga terjadi di Waduk Gajah Mungkur Wonogiri. Cuaca panas dan tidak adanya hujan menyebabkan stok air menjadi terbatas. 

Plt Kasi Pelaksanaan Bidang Operasi dan Pemeliharaan BBWSBS Yogi Pandu Sastriawan, Kamis (15/8/2019) mengatakan, BBWSBS sudah melakukan rapat persiapan dalam pelaksanaan penutupan pintu air Dam Colo, Nguter. Materi yang dibahas yakni berkaitan dengan suplai air untuk petani.  

BBWSBS menegaskan, bahwa selama ini tidak ada perhitungan yang salah berkaitan dengan pola operasi. Artinya distribusi air dari Dam Colo, Nguter ke saluran irigasi untuk memenuhi kebutuhan tanaman padi petani sudah tepat. Sedangkan keluhan petani karena kekurangan air lebih disebabkan faktor kemarau panjang.  

“Sudah ada rapat berkaitan dengan revisi pola operasi. Sebenarnya air bisa mencukupi namun ternyata tidak semua teraliri air sampai akhir September. Kami terkendala batas air minimal air di Dam Colo, Nguter termasuk di Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri,” ujarnya.

BBWSBS berharap pada September mendatang sudah turun hujan sehingga menambah debit di Dam Colo, Nguter dan Waduk Gajah Mungkur Wonogiri. Apabila kemarau terus berlangsung maka dikhawatirkan debit air semakin turun drastis.

Ketua Paguyuban Petani Pengguna Air (P3A) Dam Colo Timur, Jigong Sarjanto mengatakan, kondisi kekeringan sekarang sudah memasuki puncak. Sebab kemarau masih akan terjadi dalam beberapa bulan kedepan. Air hujan yang diharapkan tidak kunjung turun dan berpengaruh besar pada kehidupan lahan pertanian. Tidak hanya hanya di Sukoharjo saja melainkan juga di daerah lain mengandalkan sepenuhnya suplai dari Dam Colo, Nguter. Aliran air tersebut digunakan petani hingga ke Ngawi, Jawa Timur.

Disaat puncak kekeringan dan sangat membutuhkan air petani justru dikejutkan dengan kabar debit di Dam Colo, Nguter terbatas. Hal tersebut terjadi karena adanya kesalahan pola operasi yang diterapkan Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air (TKPSDA). Akibatnya rencana penutupan pintu saluran air Dam Colo, Nguter kemungkinan akan dipercepat dari waktu biasanya 1 Oktober maju menjadi 15 September.

Waktu penutupan membuat petani kelabakan karena kondisi tanaman padi di masing masing daerah berbeda. Apabila tidak mendapatkan suplai air maka dikhawatirkan menyebabkan tanaman mati. Akibatnya petani gagal panen dan menderita kerugian besar.

“Kebutuhan air petani sebenarnya bisa terpenuhi dari Dam Colo Nguter apabila dalam pelaksanaan pengoperasian air sesuai pola operasional. Artinya tidak ada kesalahan dalam distribusi air ke petani,” ujarnya.

Jigong menjelaskan, kesalahan yang dilakukan yakni pola operasional bermula sejak memasuki musim kemarau. Seharusnya sesuai pola operasi mulai 1 Mai lalu debit air yang dikeluarkan dari Dam Colo, Nguter berkapasitas 10 meter kubik per detik atau dibawahnya. Namun yang terjadi justru kelebihan hingga 18 meter kubik per detik.

Kelebihan distribusi air 18 meter kubik per detik dilakukan selama dua bulan mulai Mei-Juni. Padahal pada periode tersebut seharusnya kebutuhan air petani masih terpenuhi dengan debit air 10 meter kubik per detik. Selisih air tersebut terbuang dan berdampak pada stok debit air di Dam Colo, Nguter. 

Pengelola Dam Colo, Nguter kemudian menurunkan debit air hingga titik terendah 11 meter kubik per detik. Kondisi tersebut membuat petani di luar Sukoharjo seperti Kabupaten Karanganyar, Sragen dan Ngawi, Jawa Timur protes. Sebab tanaman padi mereka kekurangan air. 

Protes tersebut ditanggapi pihak pengelola Dam Colo, Nguter dengan kembali menaikan debit air 16 meter kubik per detik. Pemenuhan tersebut berdampak pada stok air yang diperkirakan hanya mampu bertahan hingga pertengahan September mendatang. Akibatnya penutupan pintu saluran air Dam Colo, Nguter kemungkinan akan dipercepat dari waktu biasanya 1 Oktober maju menjadi 15 September.

“Petani kami minta bersiap menghadapi situasi seperti sekarang karena kekurangan air yang berdampak pada tanaman padi puso,” lanjutnya. (Mam)

BERITA REKOMENDASI